Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkap alasan Indonesia menghadapi persaingan ketat dengan Vietnam dalam memperebutkan investasi global.
Menurutnya, persoalannya bukan semata-mata soal insentif, tetapi juga menyangkut kesiapan kawasan industri, kepastian usaha, akses pasar hingga kemampuan masuk ke industri berteknologi tinggi.
“Jadi kita tentu ada persaingan dengan Vietnam. Satu hal yang mereka mendahului kita adalah mereka sudah menandatangani kerja sama dengan Eropa lebih dulu dari kita. Kemudian dengan Amerika Serikat juga mereka mendapatkan treatment daripada tarif dan non-tarif yang lebih baik dari Indonesia,” kata Airlangga dalam agenda Big Downstream Insight 2026, Selasa (6/10/2026).
Investor yang masuk ke Vietnam dapat menjadikan negara tersebut sebagai basis produksi untuk memenuhi pasar ekspor.
“Jadi inilah yang mendorong Vietnam ekspornya lebih cepat dari kita,” ungkap Airlangga.
Selain akses pasar, Airlangga menyoroti skala kawasan ekonomi yang dimiliki kedua negara. Indonesia memiliki kawasan ekonomi khusus sekitar 24 ribu hektare, sedangkan Vietnam mencapai sekitar 2 juta hektare.
Namun, Airlangga menilai Indonesia memiliki keunggulan yang tidak dimiliki Vietnam, yakni pasar domestik yang besar.
“Mereka tidak punya domestic market. Jadi mereka yang menanam investasi di Vietnam itu harus mendorong untuk menuju ekspor,” katanya.
Karena itu, Indonesia dinilai perlu memanfaatkan pasar domestik tersebut sebagai kekuatan untuk membangun basis industri, sekaligus memperluas kapasitas ekspor.
Indonesia tidak cukup hanya menjadi pasar bagi produk global, tetapi harus mampu menjadi lokasi produksi dengan rantai pasok yang semakin dalam.
Airlangga juga mengingatkan bahwa kekuatan sumber daya alam Indonesia belum otomatis membuat struktur industri nasional lebih maju. Indonesia memang memiliki komoditas renewable seperti sawit, karet dan produk pertanian, serta sumber daya non-renewable seperti mineral dan batu bara. Namun, komoditas tersebut harus terus dinaikkan nilai tambahnya.
Baca Juga: Airlangga Akui Vietnam Jadi Pesaing RI dalam Merebut Investasi
Baca Juga: LPS Pertahankan Bunga Penjaminan Bank 3,75% hingga Januari 2027
Di titik ini, Airlangga menegaskan bahwa hilirisasi tidak sama dengan industrialisasi. Hilirisasi hanya menjadi salah satu bagian dari strategi industri. Indonesia juga perlu mengembangkan sektor manufaktur lain seperti otomotif, tekstil, produk tekstil, fast moving consumer goods hingga industri strategis lainnya.
Menurut Airlangga, Indonesia perlu melihat perkembangan industri seperti sebuah eskalator. Tahap pertama adalah industri berbasis pertanian, kemudian naik ke manufaktur dan industrialisasi, sebelum akhirnya masuk ke level digitalisasi, semikonduktor dan teknologi tinggi.
“Vietnam sudah ke sana, India juga sudah di sana. Maka kita yang belum naik dari level 2 ke level 3,” katanya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Aryo Hadi Wibowo
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: