Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rumput Laut Terancam Cuma Jadi Komoditas, Menperin Dorong Hilirisasi

Rumput Laut Terancam Cuma Jadi Komoditas, Menperin Dorong Hilirisasi Kredit Foto: Antara/Jojon
Warta Ekonomi, Jakarta -

Rumput laut Indonesia mulai diarahkan untuk tidak berhenti sebagai komoditas hasil laut. Pemerintah mendorong pengembangan industri hilir agar bahan baku tersebut dapat masuk ke berbagai sektor, mulai dari pangan hingga farmasi, kosmetik, dan bioplastik.

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengatakan Kementerian Perindustrian siap membangun ekosistem industri rumput laut untuk meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut.

“Rumput laut memiliki peluang pemanfaatan yang luas, tidak hanya sebagai komoditas, tetapi juga sebagai bahan baku berbagai produk bernilai tambah. Produk turunannya antara lain pangan, agar dan karagenan, hingga bahan untuk industri farmasi, kosmetik, nutraceutical, biomaterial, dan bioplastik,” kata Sarmuji dalam Peluncuran Integrated Seaweed Development Action Plan (ISDAP) 2026–2030 di kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Selasa (6/10/2026).

Menurut Sarmuji, pengembangan rumput laut perlu diarahkan pada hilirisasi dan diversifikasi produk. Dengan begitu, pengembangan komoditas tersebut tidak hanya meningkatkan produksi bahan baku, tetapi juga memperluas kapasitas industri dan pasar produk turunannya.

Kemenperin juga menilai pengembangan rumput laut sejalan dengan kebutuhan memperkuat rantai nilai industri dari hulu hingga hilir. Aspek yang perlu diperhatikan mencakup ketersediaan bahan baku, kapasitas industri, inovasi, teknologi, akses pasar, serta keberlanjutan lingkungan.

Sarmuji mengatakan pengembangan ekosistem rumput laut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk pemerintah, pelaku usaha, lembaga pembiayaan, lembaga riset, serta mitra internasional.

“Pengembangan industri tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan sentra produksi bahan baku di hulu serta industri pengguna dan pasar di hilir,” ujarnya.

Pemerintah sebelumnya juga memasukkan arah pengembangan tersebut dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2026–2045 yang masih dalam proses finalisasi.

Selain mendorong hilirisasi, Sarmuji menargetkan pengembangan ekosistem tersebut dapat membawa produksi dan industri rumput laut Indonesia menjadi yang terbesar di dunia.

“Insyaallah jajaran Kemenperin siap mengambil langkah-langkah untuk mempersiapkan ekosistem industri rumput laut ini sebagai satu potensi baru yang membanggakan kita semua. Mudah-mudahan ini menjadi langkah penting agar produksi rumput laut Indonesia dan seluruh hilirisasinya bisa menjadikan produksi rumput laut Indonesia nomor satu di dunia,” tegas Sarmuji.

Baca Juga: Menperin Ungkap Industri Tekstil Masih Bermasalah, BUMN Didorong Jadi Penopang

Baca Juga: Baja Kendal Tembus Australia, Kemenperin Khawatir Ekspor Tak Berlanjut

Menurutnya, pengembangan industri rumput laut juga menjadi bagian dari upaya memperbesar kontribusi industri terhadap perekonomian nasional.

Pada triwulan II 2026, industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32 persen, sedikit di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen. Sektor tersebut juga menyumbang Rp1.102,88 triliun terhadap PDB pada periode yang sama.

Sementara itu, industri makanan dan minuman yang menjadi salah satu pengguna potensial rumput laut tumbuh 6,77 persen pada semester I 2026. Industri ini menyumbang 41,86 persen terhadap PDB industri nonmigas dan 7,16 persen terhadap PDB nasional.

Melalui ISDAP 2026–2030, pemerintah ingin membangun pengembangan rumput laut yang lebih terintegrasi. Bagi Kemenperin, fokusnya bukan sekadar meningkatkan produksi, tetapi memastikan komoditas tersebut dapat terserap ke dalam rantai industri dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan