Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

IoT Pangkas Pemakaian Pupuk Petani hingga 53 Persen

IoT Pangkas Pemakaian Pupuk Petani hingga 53 Persen Kredit Foto: Komdigi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyebut pemanfaatan teknologi Internet of Things (IoT) mulai memberikan dampak terhadap produktivitas sektor pangan. Di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, penggunaan sensor tanah membantu petani memangkas kebutuhan pupuk dari sekitar 1.600 kilogram menjadi 750 kilogram per hektare.

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengatakan teknologi digital, termasuk IoT dan kecerdasan artifisial (AI), perlu diarahkan pada kebutuhan konkret masyarakat, termasuk mendukung ketahanan pangan.

“IoT dan kecerdasan artifisial adalah teknologi baru yang harus kita manfaatkan agar memberikan dampak langsung terhadap produktivitas masyarakat,” ujar Meutya dalam keterangannya, Selasa (7/10/2026).

Salah satu penerapan teknologi tersebut dilakukan petani di Desa Pengkok, Kabupaten Sragen. Petani Sumarno menggunakan perangkat sensor pertanian Jinawi untuk mengetahui kondisi tanah dan menentukan kebutuhan pupuk.

Berdasarkan hasil pengukuran sensor, kondisi tanah masih dinilai subur sehingga kebutuhan pupuk dapat dikurangi. Penggunaan pupuk yang sebelumnya mencapai sekitar 1.600 kilogram per hektare turun menjadi sekitar 750 kilogram per hektare atau berkurang sekitar 53 persen.

“Alat digital Jinawi sangat membantu, terutama dalam menentukan pemupukan. Sebelumnya satu hektare bisa menghabiskan sekitar 1.600 kilogram pupuk. Setelah menggunakan alat ini, kondisi tanah diketahui masih subur sehingga kebutuhan pupuk hanya sekitar 750 kilogram,” kata Sumarno.

Pemanfaatan IoT juga diterapkan pada sektor perikanan. Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Cipancur Cimahi Farm Feed di Kabupaten Sukabumi menggunakan aerator berbasis IoT untuk membantu menjaga kadar oksigen dalam air kolam.

Pembudidaya ikan nila Abdullah Agus Salim mengatakan penggunaan teknologi yang disertai pembelajaran dan pendampingan membantu kelompoknya meningkatkan produksi. Saat ini, 20 anggota Pokdakan tersebut menghasilkan sekitar 40 ton ikan nila dalam satu siklus panen.

“Pertumbuhan hasil ikan nila terus meningkat berkat pembelajaran dan pendampingan teknologi ini,” ujar Abdullah.

Selain produksi, kelompok tersebut memasok sekitar 400 kilogram ikan nila setiap pekan untuk kebutuhan operasional dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sukabumi.

Meutya mengatakan penerapan teknologi digital perlu diperluas ke berbagai sentra produksi pangan di daerah. Menurutnya, digitalisasi tidak hanya ditujukan untuk wilayah perkotaan, tetapi juga perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas masyarakat di desa.

“Ketahanan pangan menjadi salah satu fokus utama pemerintah. Kami ingin memastikan digitalisasi diterapkan langsung dalam use case di lapangan. Teknologi digital jangan hanya dinikmati di perkotaan, tetapi harus masuk ke desa-desa untuk mendukung program swasembada pangan Presiden,” kata Meutya.

Komdigi terus mengembangkan pemanfaatan IoT untuk kebutuhan produktif di berbagai daerah. Penerapannya mencakup pemantauan kondisi tanah, pengaturan penggunaan input pertanian, hingga pengelolaan kualitas air dalam budi daya ikan.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri