Jokowi dan Gibran Sempat Temui Prabowo Gagalkan Pergantian Kapolri, Mahfud MD Ceritakan Taktik Presiden
Kredit Foto: BPMI
Rencana pergantian pucuk pimpinan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) disebut mengalami sejumlah penundaan sebelum akhirnya Jenderal Suyudi Ario Seto menggantikan Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengungkap sejumlah dinamika politik yang menurutnya turut memengaruhi proses tersebut.
Dalam perbincangannya bersama Rizal Mustary di podcast Terus Terang, Rabu (7/10/2026), Mahfud mengatakan rencana Presiden Prabowo Subianto untuk mengganti Listyo Sigit sebenarnya telah muncul sejak beberapa waktu sebelumnya.
Namun, rencana tersebut disebut beberapa kali tertunda. Salah satu momen yang disoroti Mahfud terjadi sekitar pertengahan tahun ketika wacana pergantian Kapolri kembali menguat.
Menurut Mahfud, rencana itu kemudian kembali tidak terlaksana setelah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka disebut datang menghadap Presiden Prabowo.
"Berikutnya pernah mau diganti lagi. Lalu tiba-tiba tidak jadi, karena beritanya itu Gibran datang menghadap. Yang selama ini tidak pernah menghadap, lalu menghadap kok. Kira-kira bulan Juni lah ya, itu kan ada peristiwa tuh," ungkap Mahfud.
Mahfud menilai pertemuan tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kembali tenggelamnya wacana pergantian Listyo Sigit. Ia kemudian mengaitkan situasi itu dengan dinamika sebelumnya yang juga disebut melibatkan Presiden ke-7 Joko Widodo.
Mahfud menceritakan bahwa Jokowi dan Iriana Jokowi sebelumnya sempat mendatangi kediaman Prabowo di Kertanegara menjelang momentum 5 Oktober. Setelah pertemuan tersebut, pemberitaan mengenai pergantian Listyo Sigit kembali mereda.
"Habis itu hilang lagi berita tentang (pergantian) Listyo ini. Analisis yang muncul, Pak Jokowi yang tidak setuju," beber pakar hukum tata negara tersebut.
Baca Juga: Rocky Gerung hingga Syahganda Diberi Jabatan Prabowo, Gatot Nurmantyo Bahas Aktivis yang 'Tersumbat'
Menurut Mahfud, rangkaian penundaan tersebut kemudian membuat Prabowo mengubah cara dalam mengeksekusi pergantian Kapolri. Ia menilai Presiden memilih menjaga rencana tersebut tetap tertutup agar tidak kembali mengalami kegagalan.
Pergantian akhirnya dilakukan secara mendadak hingga Jenderal Suyudi Ario Seto ditetapkan sebagai Kapolri baru pada 1 Oktober. Mahfud menilai strategi tersebut merupakan pelajaran dari sejumlah rencana sebelumnya yang gagal terlaksana.
"Sehingga kesimpulannya, ini kalau dibicarakan panjang-panjang dan ramai, tidak jadi terus. Pak Prabowo mengambil taktik ini tidak usah diberitahu dulu, makanya pemberitahuannya mendadak... Jangan sampai berulang tiga kali sebelumnya yang selalu gagal," tutup Mahfud.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: