Pantas Dadakan? Mahfud MD Bilang Listyo Sigit Sudah 3 Kali Gagal Dicopot, Nama Gibran Diseret
Kredit Foto: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Mantan Menko Polhukam Mahfud MD mengungkap Presiden Prabowo Subianto sudah beberapa kali memiliki rencana untuk mengganti Jenderal Listyo Sigit Prabowo dari posisi Kapolri sebelum akhirnya benar-benar dilakukan pada 1 Oktober 2026.
Ia menilai keputusan pergantian Kapolri kali ini sengaja disampaikan mendadak agar tidak kembali mengalami kegagalan seperti sebelumnya. Mahfud pun menyinggung Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
"Kenapa kepada Listyo mendadak? Menurut saya masalahnya karena sebelumnya pernah mau diganti lagi, lalu tiba-tiba nggak jadi karena beritanya Gibran datang menghadap, yang selama ini nggak pernah menghadap lalu menghadap," katanya dalam tayangan YouTube miliknya, dikutip Kamis (8/10/2026).
Baca Juga: PSI: Tidak Ada Cawapres yang Lebih Baik dari Gibran
Mahfud mengatakan, salah satu tanda keputusan tersebut benar-benar dilakukan secara mendadak terlihat dari agenda Listyo Sigit pada hari penggantian. Saat itu, Listyo masih mengikuti upacara di Lubang Buaya bersama Presiden Prabowo sebelum kemudian mendapat pemberitahuan mengenai pergantian dirinya.
Ia kemudian mengaitkan dinamika tersebut dengan beberapa upaya pergantian Kapolri yang sebelumnya disebut tidak terlaksana. Mahfud menilai Prabowo kali ini memilih untuk tidak memberi tahu lebih awal agar rencana tersebut tidak kembali kandas.
"Yang terakhir ini menurut saya Pak Prabowo mengambil taktik ini, nggak usah diberitahu dulu. Makanya pemberitahuannya mendadak tanggal 1. Jangan sampai berulang tiga kali sebelumnya yang selalu gagal," ucap dia.
Di balik proses pergantian tersebut, Mahfud turut menyoroti peran Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad. Ia menilai langkah Dasco dalam mengawal proses pergantian Kapolri berlangsung dengan cepat, mulai dari pengumuman hingga proses uji kelayakan dan kepatutan di DPR.
Baca Juga: Habiskan APBN Rp1,9 M per Bulan, Wantimpres Tak Penting-penting Amat? Mahfud: Hanya Penasihat
"Ini analisis saya, pastilah malamnya itu sudah Dasco yang pegang suratnya tapi diumumkan dan disampaikan ke DPR sesudah upacara di Lubang Buaya, baru muncul Dasco yang mengantarkan Pak Suyudi dan sebagainya," ujar Mahfud.
Menurut Mahfud, rangkaian tersebut membuat proses pergantian Listyo Sigit tidak lagi memiliki ruang untuk kembali dihentikan.
"Permainan politik menurut saya bagus saja. Kita kan tidak boleh juga menyalahkan orang berpolitik sehingga pada saat itu langsung diumumkan, langsung diantar oleh Dasco, langsung fit and proper test langsung disetujui hari itu juga di tanggal 1. Nah itu jadi nggak bisa berkutik lagi, pergantian terjadi," lanjutnya.
Setelah tidak lagi menjabat Kapolri, Listyo Sigit kemudian ditempatkan sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP). Posisi tersebut juga dibaca Mahfud sebagai bagian dari strategi Prabowo.
"Listyo Sigit itu dipindah ke KSP. KSP itu nggak ada fungsinya. Di konstitusi juga nggak ada. Itu kan ciptaan dulu. Ada KSP selama Pak Jokowi itu ada Teten, ada Pak Luhut, ada terakhir Pak Moeldoko kan nggak ada fungsinya sama sekali yang langsung berurusan dengan publik," ungkap Mahfud.
"Artinya apa? Itu bukan hanya digeser menurut saya. Menurut saya cerdik Prabowo, dikurung. Karena kalau dilepas di luar itu kan bisa berbahaya, artinya bisa mengganggu lah," imbuh Mahfud MD.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: