Dedi Mulyadi Akui Terima 150 Orang Per Hari di Rumahnya, Ini Tiga Masalah yang Kerap Diadukan
Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan rumahnya di Lembur Pakuan, Kabupaten Subang, setiap hari didatangi rata-rata 150 warga yang ingin menyampaikan berbagai persoalan. Aduan tersebut umumnya berkaitan dengan pendidikan, layanan hukum, dan kondisi darurat kesehatan.
Hal itu disampaikan Dedi saat berbincang dengan akademisi Prof. Rhenald Kasali dalam sebuah siniar yang ditayangkan di YouTube, Jumat (9/10/2026).
Dedi menjelaskan, ia memilih berkomunikasi langsung dengan warga tanpa perantara tim media. Menurut dia, cara tersebut membuat masyarakat dapat menyampaikan masalah sekaligus memperoleh tanggapan secara langsung.
“Saya mengambil pola komunikasi tak berjarak dengan warga. Saya langsung komunikasi, jawab langsung tanpa melalui tim media. Setiap hari di rumah saya ngantri rata-rata 150 orang untuk lapor masalah,” ujar Dedi.
Mendengar penjelasan tersebut, Rhenald Kasali membandingkan pola komunikasi Dedi dengan kebiasaan blusukan Presiden Joko Widodo. “Ini sudah lebih dari Jokowi nih,” kata Rhenald.
Aduan Pendidikan, Hukum, dan Kesehatan
Menurut Dedi, sebagian aduan warga berkaitan dengan kesulitan memenuhi kebutuhan sekolah anak. Ia mencontohkan orang tua yang tidak mampu membeli tas atau seragam sekolah dasar.
“Misalnya sekolah tapi tidak punya tas, tidak punya uang buat beli seragam. Seragam kita beresin secara personal,” jelasnya.
Dedi mengatakan, persoalan yang awalnya ditangani secara individual kemudian menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan dan anggaran untuk menjangkau lebih banyak warga.
“Setelah itu diterjemahkan menjadi anggaran untuk sekian puluh ribu orang,” tambahnya.
Dalam bidang hukum, Dedi menyebut pihaknya memiliki 200 pengacara yang memberikan layanan kepada masyarakat di setiap kabupaten. Bantuan tersebut ditujukan untuk mendampingi warga yang menghadapi persoalan hukum.
Sementara itu, untuk sektor kesehatan, Dedi menyoroti warga yang mengalami kondisi darurat tetapi tidak tercakup BPJS Kesehatan. Ia menyatakan warga dalam kondisi tersebut dapat langsung memperoleh penanganan di rumah sakit di Jawa Barat tanpa terhambat prosedur administrasi yang berbelit.
Bagi Dedi, aduan warga yang datang langsung ke rumahnya menjadi salah satu cara menyerap aspirasi masyarakat. Persoalan yang ditemui sehari-hari itu juga digunakan sebagai bahan untuk merumuskan program dan anggaran daerah agar menjawab kebutuhan warga Jawa Barat.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: