Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Prabowo Disebut Kehilangan Street Smart Jokowi

Prabowo Disebut Kehilangan Street Smart Jokowi Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Perbedaan karakter kepemimpinan menjadi salah satu faktor yang dapat menjelaskan penurunan kepuasan publik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Dalam siniar Total Politik yang tayang pada Rabu (7/10/2026), Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya, menyoroti perbedaan gaya politik Prabowo dengan pendahulunya, Joko Widodo (Jokowi). Menurutnya, Jokowi memiliki kemampuan beradaptasi dan membaca situasi masyarakat, sedangkan Prabowo cenderung berpegang pada gagasan serta keyakinannya sendiri.

Yunarto menyebut tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Prabowo dikabarkan turun dari sekitar 80 persen menjadi di bawah 50 persen dalam kurun waktu enam bulan. Ia juga menyoroti penurunan tersebut di tengah inflasi yang disebut berada di kisaran 3,5 persen.

Menurut Yunarto, salah satu keunggulan Jokowi adalah kelincahan dalam mengambil keputusan politik. Pengalaman hidup dan jejaring yang dimiliki Jokowi dinilai membentuk pendekatan yang pragmatis dan adaptif.

“Street smart, we call it street smart. Apa sih yang membuat Jokowi hebat? Satu kata menurut saya agile. Fleksibel, lincah, adaptif,” ujar Yunarto.

Sebaliknya, Yunarto menggambarkan Prabowo sebagai pemimpin yang cenderung deduktif, yakni menjalankan kebijakan berdasarkan gagasan dan keyakinan yang telah dibangun sebelumnya. Ia menilai pola tersebut terlihat dari konsistensi Prabowo dalam menjalankan visi yang tertuang dalam bukunya, Paradoks Indonesia.

Yunarto menilai perbedaan pendekatan itu berpengaruh terhadap cara pemerintah merespons persoalan di masyarakat. Ia menyoroti kegelisahan terkait daya beli dan tekanan terhadap kelas menengah, serta kebijakan populis yang menurutnya perlu mempertimbangkan kemampuan fiskal.

Ia juga mengkritik pandangan yang menganggap masyarakat hanya belum memahami visi Presiden. Menurut Yunarto, pemerintah justru perlu lebih aktif mendengar persoalan yang dirasakan warga dan menyampaikannya kepada Presiden.

“Yang dibutuhkan oleh presiden itu bukan orang yang mengerti alam pikiran dia dan kemudian memaksa khalayak mengerti. Tapi kebalikannya, siapa yang punya kemampuan mengerti apa yang menjadi kegundahan khalayak, dan punya akses untuk membisikkan itu kepada Pak Prabowo,” pungkasnya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat