- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
IHSG Berpeluang Menguat, Tapi Investor Tetap Waspadai Arus Keluar Asing dan Evaluasi MSCI
Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Senin (12/10/2026), seiring bertahannya momentum teknikal bullish dan meredanya tekanan sentimen global. Meski demikian, investor masih perlu mencermati derasnya arus keluar dana asing, penurunan volume perdagangan, serta ketidakpastian terkait reformasi pasar modal dan evaluasi indeks MSCI.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta menilai prospek IHSG cenderung cautiously optimistic atau optimistis secara hati-hati. Pandangan ini didukung oleh keberhasilan IHSG memantul dari level support terdekat, sementara indikator teknikal Stochastic K-D dan Relative Strength Index (RSI) masih menunjukkan sinyal positif.
Namun, penurunan volume perdagangan menjadi sinyal yang patut diwaspadai. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa momentum penguatan perlu dikonfirmasi oleh peningkatan aktivitas transaksi agar reli IHSG dapat berlanjut secara lebih meyakinkan.
Baca Juga: IHSG Ditutup di Zona Hijau, Naik 62,47 Poin ke Level 6.093,75
“IHSG memiliki level support di 5.973 dan 5.851. Sementara itu, level resistance terdekat berada di 6.180, dengan resistance berikutnya di 6.267,” kata dia dalam risetnya.
Meredanya Ketegangan AS-Iran Jadi Katalis Eksternal
Salah satu faktor yang berpotensi menopang pergerakan IHSG adalah meredanya kekhawatiran geopolitik di Timur Tengah. Sentimen tersebut menguat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa AS tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu paruh waktu yang dimulai pada 3 November 2026.
Perkembangan ini turut diikuti pelemahan harga minyak mentah Brent sebesar 0,29% ke level US$104,42 per barel.
Penurunan harga minyak berpotensi mengurangi tekanan inflasi global dan memberikan ruang bagi bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), untuk mempertahankan kebijakan moneter yang lebih akomodatif. Pasar memperkirakan peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan 28 Oktober 2026 mencapai 82,3%.
Bagi pasar saham Indonesia, kombinasi meredanya risiko geopolitik, harga energi yang lebih rendah, dan peluang stabilnya suku bunga AS dapat menjadi penopang sentimen investor. Meski begitu, pergerakan harga minyak dan arah kebijakan The Fed tetap menjadi faktor yang perlu dicermati.
Rupiah Stabil, Konsumsi Domestik Menguat
Dari dalam negeri, stabilitas rupiah dan pertumbuhan konsumsi rumah tangga memberikan tambahan dukungan bagi pasar saham.
Rupiah tercatat menguat 0,09% ke level Rp17.899 per dolar AS. Penguatan ini berpotensi membantu menjaga stabilitas biaya bagi perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor, sekaligus memberikan sentimen relatif positif bagi saham-saham berkapitalisasi besar, termasuk sektor perbankan.
“Di sisi lain, penjualan ritel Indonesia pada Agustus 2026 tumbuh 1,3% secara tahunan atau year on year (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan 1,1% pada Juli 2026,” ungkap Nafan.
Kenaikan tersebut, bilang di, menunjukkan bahwa konsumsi domestik masih memiliki daya tahan. Bagi investor, perkembangan ini menjadi salah satu indikator penting dalam menilai prospek emiten yang bergantung pada belanja rumah tangga dan aktivitas ekonomi nasional.
Sentimen positif lainnya datang dari rencana Danantara untuk memanfaatkan peluang investasi ketika pasar mengalami tekanan.
Danantara menyatakan terbuka untuk masuk ke pasar saham apabila valuasi dinilai menarik, dengan rencana tambahan investasi sekitar US$1 miliar hingga akhir 2026, bergantung pada kondisi pasar.
“Potensi masuknya dana tersebut dapat memperkuat optimisme investor, terutama ketika koreksi harga membuat valuasi sejumlah saham menjadi lebih menarik. Namun, realisasi investasi tetap bergantung pada penilaian valuasi dan kondisi pasar, sehingga belum dapat dipandang sebagai jaminan pembalikan arah IHSG,” jelas Nafan.
Arus Keluar Asing dan Evaluasi MSCI Masih Membayangi
Di balik peluang penguatan, tekanan dari investor asing masih menjadi tantangan utama. Mirae Asset mencatat aksi jual bersih asing (net foreign sell) harian sebesar Rp141,50 miliar, sedangkan akumulasi net foreign sell sejak awal tahun mencapai Rp111,13 triliun.
Secara tahun berjalan, IHSG juga tercatat melemah 29,53%. Angka tersebut menggambarkan besarnya tekanan yang telah dihadapi pasar saham domestik sepanjang 2026.
Selain arus keluar modal asing, pelaku pasar masih menyoroti reformasi pasar modal dan evaluasi MSCI yang dijadwalkan pada 11 November 2026. Implementasi penyesuaian batas harga minimum saham, penyempurnaan mekanisme perdagangan, transparansi kepemilikan, dan peningkatan kualitas tata kelola akan menjadi faktor penting dalam memperbaiki persepsi investor terhadap pasar saham Indonesia.
Baca Juga: BEI Turunkan Ambang HSC Jadi Rp5 Triliun, 64 Saham Masuk Daftar
Baca Juga: Danantara Siap Masuk Pasar Saham Saat Krisis, Asal Valuasinya Menarik
Menjelang evaluasi tersebut, investor berpotensi bersikap lebih selektif dan mengurangi eksposur pada saham yang dinilai memiliki risiko likuiditas maupun transparansi lebih tinggi. Karena itu, keberhasilan reformasi pasar modal menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung kepercayaan investor dalam jangka menengah
Dengan demikian, perdagangan IHSG pada Senin (12/10/2026) berpotensi ditopang oleh kombinasi sinyal teknikal positif, stabilitas rupiah, pertumbuhan konsumsi domestik, dan meredanya ketegangan geopolitik. Namun, tekanan jual asing serta ketidakpastian terkait reformasi pasar modal tetap membatasi ruang penguatan.
“Investor perlu mencermati kemampuan IHSG bertahan di atas support 5.973 dan menembus resistance 6.180 sebagai indikator penting untuk menilai keberlanjutan momentum rebound. Di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya kondusif, pendekatan selektif dan disiplin risiko menjadi kunci untuk memanfaatkan peluang tanpa mengabaikan potensi volatilitas,” tutup Nafan.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: