Kredit Foto: BPMI
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 1,93% pada perdagangan sesi I, Senin (12/10/2026). Bahkan, indeks sempat terperosok 2,6% ke level 5.934,06 hingga perdagangan pukul 14.08 WIB.
Di tengah tekanan pasar, wacana pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka turut menjadi sorotan. Meski demikian, isu politik tersebut bukan pemicu utama pelemahan IHSG, melainkan faktor tambahan yang memperkuat sikap hati-hati investor.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menilai tekanan terhadap pasar saham domestik lebih dipengaruhi kombinasi sentimen makroekonomi dan perkembangan global. Ketidakpastian politik dalam negeri dapat memperburuk sentimen ketika investor sedang menghindari risiko.
“Isu politik domestik terkait wacana pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bukan merupakan pemicu utama, melainkan katalis sekunder yang memperkuat sikap risk-off investor di pasar saham,” ujar Nafan kepada Warta Ekonomi, Senin (12/10/2026).
Menurut Nafan, pasar keuangan cenderung sensitif terhadap ketidakpastian. Ketika isu politik memanas dan menjadi perhatian publik, investor bisa mengurangi kepemilikan saham, terutama jika situasi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas pemerintahan.
“Pasar pada dasarnya sangat menghindari ketidakpastian,” jelasnya.
Nafan menegaskan, sentimen politik bukan satu-satunya faktor yang menekan pasar. Investor juga mencermati arah suku bunga, kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS), serta pelemahan rupiah terhadap dolar AS.
Menurutnya, ketiga faktor tersebut masih memiliki pengaruh lebih besar terhadap pergerakan pasar dibandingkan isu politik domestik.
“Isu politik ini masih memiliki bobot yang lebih rendah dibandingkan sentimen global, kebijakan suku bunga, imbal hasil obligasi AS, dan pelemahan rupiah,” ungkap Nafan.
Di tengah tekanan tersebut, pergerakan investor asing juga perlu dicermati. Investor global umumnya sensitif terhadap risiko stabilitas pemerintahan dan dapat menunda penempatan dana baru ketika ketidakpastian meningkat.
Nafan menilai, jika ketidakpastian politik berlanjut tanpa kejelasan, investor institusi dan asing berpotensi memilih bersikap wait and see. Kondisi ini dapat membatasi aliran dana masuk dan memperlambat pemulihan IHSG dalam jangka pendek.
Baca Juga: IHSG Makin Terpuruk, Anjlok 2,60% ke 5.934,06, Bakal Turun Lagi?
Baca Juga: IHSG Langsung Tancap Gas, Dibuka Menguat 0,26% ke 6.109
Tekanan juga berpotensi terasa pada saham-saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI).
Saham perbankan berkapitalisasi besar memiliki bobot signifikan dalam pergerakan IHSG dan menjadi instrumen likuid bagi investor institusi. Untuk itu, aksi jual pada saham-saham tersebut ketika terjadi arus keluar modal dapat memperbesar tekanan terhadap indeks.
Meski pasar masih dibayangi berbagai sentimen negatif, peluang pemulihan teknikal tetap terbuka jika muncul aksi beli pada saham-saham yang telah terkoreksi dalam. Investor perlu mencermati nilai transaksi, pergerakan saham berkapitalisasi besar, serta aktivitas transaksi investor asing untuk membaca arah IHSG selanjutnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Dian Ihsan