Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Industri kecil dan menengah (IKM) Indonesia masih menghadapi sejumlah hambatan untuk memperluas pasar ke luar negeri. Persoalannya bukan hanya kemampuan menghasilkan produk yang diminati konsumen, melainkan juga memenuhi standar negara tujuan dan menanggung biaya logistik yang kompetitif.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Astuti menilai, kesiapan IKM untuk memasuki pasar internasional dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari kapasitas produksi hingga pemenuhan standar mutu. Keterbatasan tersebut membuat pelaku usaha perlu bekerja lebih keras agar produknya mampu bersaing dengan produk dari negara lain.
“Banyak produk IKM belum memenuhi sertifikasi atau standar internasional yang ketat, serta memiliki kualitas yang tidak seragam,” ujar Esther kepada Warta Ekonomi, belum lama ini.
Persyaratan tersebut berbeda-beda bergantung pada jenis produk dan pasar yang dituju. Sejumlah standar yang dapat menjadi persyaratan akses pasar antara lain ISO, Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP), ketentuan Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat, hingga penandaan CE untuk produk tertentu yang dipasarkan di Uni Eropa.
Pemenuhan standar itu menjadi penting karena produk yang mampu bersaing di pasar domestik belum tentu secara otomatis memenuhi persyaratan di pasar internasional.
Bagi IKM, proses penyesuaian dapat menjadi tantangan tersendiri. Pelaku usaha perlu memastikan kualitas produk konsisten, memahami ketentuan yang berlaku, serta menyiapkan dokumen dan sertifikasi yang dibutuhkan.
Selain standar mutu, hambatan juga muncul dari aturan non-tarif yang diterapkan negara tujuan. Perbedaan persyaratan teknis, ketentuan pelabelan, hingga aturan terkait lingkungan dapat menambah kompleksitas proses ekspor.
Ongkos Logistik Tekan Daya Saing
Di luar persoalan standar, biaya logistik menjadi tantangan lain bagi IKM yang ingin memperluas jangkauan penjualan ke luar negeri.
Esther menjelaskan, keterbatasan akses terhadap jaringan distribusi internasional dan mahalnya biaya pengiriman dapat menyulitkan produk usaha kecil bersaing di pasar global.
“Keterbatasan akses ke jaringan distribusi internasional serta mahalnya biaya pengiriman membuat produk kecil sulit bersaing di luar negeri,” kata Esther.
Skala produksi menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Pelaku usaha dengan volume pengiriman terbatas memiliki ruang yang lebih sempit untuk menekan biaya distribusi dibandingkan perusahaan yang mampu mengirimkan barang dalam jumlah besar.
Biaya pengiriman yang tinggi pada akhirnya dapat memengaruhi harga produk ketika sampai di tangan pembeli. Jika harga menjadi kurang kompetitif, peluang IKM untuk bersaing dengan pemasok dari negara lain juga dapat tertekan.
Persoalan ini berkaitan erat dengan kemampuan pelaku usaha menjaga kontinuitas produksi. Volume produksi yang kecil dan tidak stabil membuat IKM kesulitan memenuhi jumlah minimum pemesanan atau minimum order quantity (MOQ) serta menjaga kesinambungan pasokan sesuai permintaan pembeli luar negeri.
“Volume produksi skala kecil sering kali tidak stabil, sehingga sulit memenuhi syarat jumlah minimum pemesanan dan kontinuitas pasokan dari pembeli luar negeri,” ujar Esther.
Ketika pesanan meningkat, pelaku usaha perlu memastikan kapasitas produksi dan ketersediaan modal kerja cukup untuk memenuhi permintaan tersebut. Sebaliknya, jika volume pesanan masih terbatas, biaya distribusi dapat menjadi beban yang lebih besar bagi usaha.
Dengan demikian, tantangan ekspor IKM tidak berhenti pada kemampuan menemukan pembeli. Pelaku usaha juga perlu memastikan bahwa produk dapat diproduksi secara konsisten, memenuhi ketentuan pasar tujuan, dan dikirimkan dengan biaya yang tetap kompetitif.
Upaya memenuhi standar internasional dan memperbesar skala produksi juga berkaitan dengan akses pembiayaan.
Esther mengidentifikasi keterbatasan modal, sulitnya akses terhadap lembaga perbankan, serta tingginya bunga pinjaman sebagai sejumlah kendala yang dapat menghambat IKM meningkatkan kapasitas usahanya.
“Keterbatasan akses ke lembaga perbankan, bunga pinjaman yang tinggi, serta kurangnya modal kerja menyulitkan industri kecil memperbesar skala produksinya,” kata Esther.
Modal kerja dibutuhkan untuk menjaga ketersediaan bahan baku, memenuhi pesanan dalam jumlah lebih besar, serta mempertahankan kelancaran produksi. Di sisi lain, pemenuhan persyaratan mutu dan penyesuaian produk untuk pasar ekspor juga dapat membutuhkan tambahan biaya.
Baca Juga: Sulit Tembus Pasar Lebih Luas, IKM Makanan dan Minuman Masih Dibayangi Banyak Kendala
Baca Juga: Indef Soroti PR Besar IKM RI: Produksi Kecil, Standar Ekspor Belum Siap
Tanpa dukungan pembiayaan yang memadai, pelaku IKM berpotensi kesulitan meningkatkan kapasitas produksi ketika memperoleh peluang pasar baru.
Kendala lainnya adalah keterbatasan pemahaman mengenai prosedur ekspor. Sebagian pelaku usaha masih menghadapi kesulitan dalam melengkapi dokumen legalitas, memahami perizinan melalui sistem Online Single Submission (OSS), serta memenuhi ketentuan kepabeanan.
Selain aspek administratif, minimnya riset pasar dan jaringan bisnis internasional turut membatasi peluang ekspansi. Pelaku usaha perlu memahami kebutuhan konsumen di negara tujuan, memanfaatkan saluran pemasaran internasional, dan membangun komunikasi dengan calon pembeli.
Berbagai kendala tersebut menunjukkan bahwa memperluas ekspor IKM membutuhkan kesiapan yang saling berkaitan, mulai dari kualitas produk, kapasitas produksi, pembiayaan, hingga distribusi.
Bagi pelaku usaha, tantangannya adalah memastikan produk tidak hanya memiliki peluang untuk diterima di pasar global, tetapi juga dapat diproduksi dan dikirimkan secara berkelanjutan dengan harga yang bersaing.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan