Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Kena Imbas Karhutla RI, Singapura Langsung Beri Subsidi Pengobatan Massal untuk Warganya

Kena Imbas Karhutla RI, Singapura Langsung Beri Subsidi Pengobatan Massal untuk Warganya Kredit Foto: Antara/Auliya Rahman
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pemerintah Singapura mulai memberikan subsidi pengobatan bagi warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat kabut asap. Program tersebut berlaku mulai Senin (12/10/2026) di poliklinik dan Klinik Kesiapsiagaan Kesehatan Masyarakat (PHPC) yang berpartisipasi.

Menteri Kesehatan Singapura Ong Ye Kung mengatakan, kebijakan ini ditujukan untuk membantu masyarakat memperoleh perawatan di layanan kesehatan primer. Skema serupa pernah diterapkan pada 2013 dan terakhir diaktifkan pada 2015 saat Singapura terdampak asap kebakaran hutan dan lahan dari Indonesia.

Besaran subsidi bergantung pada jenis fasilitas kesehatan dan kategori pasien. Seluruh warga Singapura dapat memperoleh subsidi untuk perawatan di poliklinik, sedangkan layanan di PHPC hanya tersedia bagi kelompok tertentu, termasuk anak-anak dan lansia.

Warga yang memenuhi persyaratan tidak perlu membayar lebih dari 10 dollar Singapura atau sekitar Rp140.000 untuk perawatan di poliklinik. Bagi pemegang kartu Public Assistance, pemerintah menanggung biaya perawatan sepenuhnya, baik di poliklinik maupun PHPC.

Untuk perawatan di PHPC, anak berusia 18 tahun ke bawah dan lansia berusia minimal 65 tahun dibatasi membayar maksimal 10 dollar Singapura. Batas serupa berlaku bagi pemegang kartu biru dan oranye Community Health Assist Scheme serta Medical Fee Exemption Card.

Sementara itu, lansia dari kelompok Pioneer Generation dan Merdeka Generation hanya membayar maksimal 5 dollar Singapura atau sekitar Rp70.000. Daftar penyakit yang dapat ditanggung mencakup rinitis alergi, asma, bronkitis, konjungtivitis, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), serta komplikasi dari kondisi tersebut.

Dokter akan menentukan apakah keluhan pasien berkaitan dengan kabut asap dan memenuhi syarat untuk mendapatkan subsidi. Obat yang diberikan juga dibatasi sesuai kebutuhan selama masa perawatan. Masyarakat dapat memeriksa daftar PHPC peserta melalui situs Kementerian Kesehatan Singapura atau mengenali klinik peserta dari stiker, stempel, dan poster yang dipasang.

Ong mengungkapkan, pemerintah memantau peningkatan kunjungan pasien dengan masalah pernapasan ke unit gawat darurat. Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya dipicu kabut asap, tetapi juga kemungkinan diperburuk oleh musim Influenza A yang berlangsung bersamaan.

“Saya rasa hal ini bukan hanya disebabkan oleh kabut asap, melainkan juga karena musim kabut asap tahun ini bertepatan dengan musim Influenza A (dan) saling memperberat satu sama lain,” paparnya.

Baca Juga: Malaysia Niat Kirim Bantuan Padamkan Karhutla, tapi Respons Indonesia Malah Begini!

Ia menyarankan warga dengan gangguan pernapasan yang tidak tergolong serius untuk mendatangi dokter di klinik, sementara unit gawat darurat sebaiknya diprioritaskan bagi pasien dengan kondisi mendesak.

“Pergilah ke klinik – dokter keluarga Anda dapat merawat Anda,” katanya.

“Biarkan fasilitas unit gawat darurat diperuntukkan bagi mereka yang memiliki kondisi yang sangat mendesak dan sangat serius,” sambungnya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy

Tag Terkait: