Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Ditutup Menguat Tipis, Dua Tantangan Besar Bayangi Pasar Indonesia

Rupiah Ditutup Menguat Tipis, Dua Tantangan Besar Bayangi Pasar Indonesia Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Selasa (13/10/2026). Mata uang Garuda ditutup ke level Rp17.900 atau menguat 13 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.913 per dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan penguatan rupiah terjadi di tengah perhatian investor soal kajian dari penyedia indeks global seperti Morgan Stanley. Indonesia masih mengalami pembekuan (freeze). 

"Hal yang menjadi perhatian MSCI adalah transparansi dalam pembentukan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI)," kata Ibrahim kepada wartawan.

Ibrahim menyebut, pelaku pasar membaca gelagat sepertinya status pembekuan masih akan diberlakukan oleh MSCI dalam kajian edisi November mendatang. 

Sejumlah saham memiliki kepemilikan yang terkonsentrasi (High Shareholding Concentration/HSC) sehingga harga yang terbentuk dipandang tidak mencerminkan transaksi sebenarnya/riil.

Selain itu, Pemerintah perlu mencermati sejumlah tantangan dalam upayanya mengamankan sumber impor bahan bakar minyak (BBM) di tengah berlanjutnya konflik Timur Tengah yang memicu ketatnya pasokan energi global. Upaya mencari pemasok alternatif dalam waktu singkat bukan perkara mudah.  

"Pasalnya, negara-negara di dunia sama-sama membutuhkan minyak, sementara keterbatasan pasokan dan logistik berpotensi meningkatkan harga serta biaya pengadaan," jelas dia.

Baca Juga: Rupiah Dibuka Melemah ke Level Rp17.939 per Dolar AS Pagi Ini

Baca Juga: Bayang-Bayang Degradasi MSCI Hantui Pasar, Rupiah Kehabisan Tenaga Dekati Rp18.000!

Indonesia, lanjut Ibrahim, perlu memperkuat pasokan dari Afrika yang selama ini menjadi salah satu sumber impor utama, sekaligus menjajaki peluang pengadaan minyak dari Amerika Serikat, Australia, Malaysia, Mesir, hingga negara-negara Eropa. Pemilihan pemasok alternatif tidak cukup hanya mempertimbangkan ketersediaan minyak mentah. 

Pemerintah dan Pertamina juga perlu menghitung biaya dan manfaat pengadaan, termasuk konsekuensi fiskal yang ditimbulkan. Pasalnya, Pertamina menjadi pihak yang melakukan pembelian minyak mentah, sehingga keputusan pengadaan harus mempertimbangkan harga beli dan seluruh biaya terkait.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra

Tag Terkait: