Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Cara Investasi Saham untuk Pemula: 7 Langkah Memulai dari Nol

Cara Investasi Saham untuk Pemula: 7 Langkah Memulai dari Nol Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Warta Ekonomi, Jakarta -

Semuanya berawal dari tujuan keuangan. Tetapkan dulu untuk apa uang itu diinvestasikan, siapkan dana darurat, lalu buka rekening efek di perusahaan sekuritas atau platform yang berizin. Baru setelah itu investor membeli saham perusahaan yang sudah ia pelajari. Satu hal yang tak boleh dilupakan: harga saham bisa naik, bisa juga turun, jadi modal tidak terjamin kembali utuh.

Minat terhadap pasar modal sendiri sedang tinggi-tingginya. Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat jumlah investor pasar modal nasional sudah menembus 31,13 juta Single Investor Identification (SID) hingga Agustus 2026. Saham jelas bukan lagi mainan kalangan tertentu saja.

Tapi lonjakan investor baru juga punya sisi lain. Banyak yang masuk karena ikut teman atau tren, tanpa benar-benar tahu apa yang mereka beli. Di titik inilah langkah awal yang tertata jauh lebih berharga ketimbang berburu saham yang sedang ramai dibicarakan.

7 Langkah Memulai Investasi Saham

Tahapan di bawah ini umumnya dilalui investor pemula, mulai dari persiapan sampai transaksi pertama.

1. Tentukan tujuan dan jangka waktu

Dana pendidikan anak untuk 15 tahun lagi jelas lain ceritanya dengan uang yang mungkin terpakai tahun depan. Saham lebih pas untuk tujuan jangka panjang. Alasannya sederhana: dalam jangka pendek, harganya bisa bergoyang cukup tajam.

2. Siapkan dana darurat lebih dulu

Jangan buru-buru membeli saham sebelum punya dana darurat yang cukup untuk menutup pengeluaran beberapa bulan. Tanpa bantalan itu, investor bisa terpaksa menjual sahamnya justru saat harga sedang jatuh, hanya karena butuh uang tunai.

3. Pelajari dasar-dasar pasar modal

Kenali dulu istilah-istilah kuncinya: emiten, dividen, capital gain, dan valuasi. Kalau butuh panduan teknis yang lebih rinci, ulasan tentang cara investasi saham secara online bisa jadi bekal sebelum menyetor dana pertama.

4. Pilih pasar: saham Indonesia atau saham AS

Kini investor ritel di Indonesia punya dua pilihan besar. Di Bursa Efek Indonesia (BEI), kita bisa memiliki perusahaan yang produknya kita pakai sehari-hari. Pasar saham Amerika Serikat lain lagi: pintunya terbuka ke perusahaan teknologi dan konsumer kelas global.

Aspek

Saham BEI

Saham AS

Satuan pembelian

Per lot (100 lembar)

Per lembar, sebagian platform menyediakan pecahan saham

Mata uang

Rupiah

Dolar AS (ada risiko kurs)

Jam perdagangan

Siang hari WIB

Malam hingga dini hari WIB

Keduanya tidak harus dipertentangkan. Selama risikonya dipahami, dua pasar ini bisa saling melengkapi sebagai sarana diversifikasi.

5. Buka rekening di platform berizin

Cek dulu apakah perusahaan sekuritas atau aplikasi pilihan Anda terdaftar dan diawasi otoritas terkait, seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Soal pembukaan rekening, sekarang umumnya cukup lewat ponsel, bermodal e-KTP, NPWP (jika ada), dan rekening bank.

Struktur biayanya juga perlu dicermati sejak awal. Ada komisi beli dan jual, biaya penyimpanan bila ada, serta biaya konversi mata uang untuk saham luar negeri. Per transaksi mungkin kelihatan kecil. Namun bagi investor yang sering keluar-masuk posisi, jumlahnya bisa terasa. Bandingkan beberapa platform, dan baca ketentuan layanannya, jangan hanya materi promosinya.

6. Analisis sebelum membeli

Baca laporan keuangannya. Lihat tren pendapatan dan laba, lalu bandingkan valuasinya dengan perusahaan sejenis. Analisis memang tidak menjamin hasil, tetapi setidaknya investor tahu alasan di balik keputusannya sendiri.

Ada dua pendekatan yang sering tercampur di kepala pemula. Analisis fundamental menilai kesehatan bisnis dan prospek perusahaan. Analisis teknikal membaca pola pergerakan harga dan volume. Untuk tujuan jangka panjang, fundamental biasanya jadi pijakan utama, dan tidak perlu rumit. Dua pertanyaan sederhana, "bagaimana perusahaan ini menghasilkan uang?" dan "apakah utangnya masih wajar?", sudah cukup sebagai permulaan.

7. Mulai bertahap dan evaluasi berkala

Banyak investor memilih tidak menaruh seluruh dananya sekaligus. Mereka membeli sedikit demi sedikit setiap bulan, sehingga tidak perlu pusing menebak kapan waktu terbaik masuk pasar. Portofolio cukup dievaluasi berkala, misalnya per kuartal. Bukan setiap jam.

Berapa Modal Minimal?

Saham di BEI dibeli dalam satuan lot. Sejak 6 Januari 2014, satu lot setara dengan 100 lembar saham, turun dari sebelumnya 500 lembar. Jadi modal minimal untuk satu saham tinggal dihitung: harga per lembar dikali 100. Saham seharga Rp500 per lembar, misalnya, butuh sekitar Rp50.000 per lot, belum termasuk biaya transaksi. Dengan hitungan seperti ini, sebagian saham di BEI sebetulnya bisa dibeli dengan nominal yang cukup terjangkau, walau harga per lembarnya sangat beragam dari satu emiten ke emiten lain.

Pasar AS bekerja sedikit berbeda. Satu lembar saham perusahaan besar bisa bernilai ratusan dolar, angka yang lumayan berat bagi pemula. Di sinilah pecahan saham (fractional shares) berguna: investor bisa memiliki sebagian dari satu lembar saham, sesuai dana yang ada. Aplikasi seperti Gotrade membuka akses ke saham AS dengan mekanisme ini, sehingga nominal awalnya bisa disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

Hanya saja, modal kecil tidak otomatis berarti risikonya ikut kecil. Nilai investasi tetap bisa turun, dan khusus saham AS ada risiko tambahan dari pergerakan kurs rupiah terhadap dolar. Pakai hanya dana yang memang tidak dibutuhkan dalam waktu dekat.

Kesalahan Umum Pemula

Pola-pola berikut kerap terulang pada investor baru:

  • Ikut-ikutan tren. Membeli saham semata karena sedang ramai di media sosial, tanpa paham bisnis perusahaannya.
  • Menaruh semua dana di satu saham. Terlalu terkonsentrasi membuat portofolio rapuh begitu satu emiten diterpa kabar buruk.
  • Memakai uang pinjaman atau dana kebutuhan pokok. Saat keuangan tertekan, keputusan jual yang terburu-buru jadi lebih mungkin terjadi.
  • Panik saat harga turun. Koreksi itu bagian wajar dari pasar. Ambil keputusan berdasarkan analisis, bukan emosi.
  • Tergiur janji keuntungan pasti. Tawaran investasi dengan imbal hasil tetap dan tinggi patut dicurigai. Selalu cek legalitas pihak yang menawarkannya.
  • Mengabaikan biaya. Biaya transaksi, pajak, dan selisih kurs ikut menggerus hasil bersih, apalagi bila sering jual-beli.

Kesimpulan

Untuk mulai berinvestasi saham, modal besar tidak wajib. Yang wajib adalah persiapan. Tentukan tujuan, amankan dana darurat, pelajari dasarnya, lalu pilih pasar dan platform berizin yang cocok. Saham BEI maupun saham AS sama-sama bisa masuk portofolio, asalkan risikonya dipahami sejak awal.

Ujung-ujungnya, disiplin dan kesabaran lebih menentukan pengalaman berinvestasi daripada sibuk mengejar saham yang sedang naik daun. Investasi saham mengandung risiko, dan kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: