Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Yunarto Wijaya Sebut Dukungan Jokowi ke Prabowo sebagai Transaksi Politik, Singgung Gibran

Yunarto Wijaya Sebut Dukungan Jokowi ke Prabowo sebagai Transaksi Politik, Singgung Gibran Kredit Foto: Antara/Bayu Pratama S
Warta Ekonomi, Jakarta -

Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya melontarkan kritik keras terhadap keputusan politik Joko Widodo menjelang Pemilihan Presiden 2024. Ia menilai dukungan Jokowi kepada Prabowo Subianto tidak lagi sejalan dengan nilai yang sebelumnya melekat pada sosok mantan presiden tersebut.

Dalam podcast Akbar Faizal Uncensored, Yunarto mengaitkan keputusan itu dengan dugaan transaksi politik yang menurutnya turut berkaitan dengan posisi putra Jokowi, Gibran Rakabuming Raka. Penilaian tersebut merupakan interpretasi Yunarto atas arah politik Jokowi, bukan kesimpulan yang telah dibuktikan secara independen.

"Artinya kita lihat beliau sedang tidak berpikir tentang negara. Beliau menggadaikan apa yang sudah dia perjuangkan untuk sebuah transaksi politik. Kompensasinya apa? Anaknya," ujar Yunarto.

Yunarto mempersoalkan mengapa Jokowi memilih mendukung Prabowo untuk menjadi presiden meskipun, menurutnya, terdapat perbedaan ideologis di antara keduanya. Ia mengaku pernah berhadapan dengan Prabowo dalam dua kontestasi pemilihan presiden karena perbedaan gagasan politik.

Menurut Yunarto, keputusan Jokowi mengajak Prabowo masuk ke pemerintahan sebagai Menteri Pertahanan masih bisa dipahami dalam kerangka menjaga harmoni politik. Namun, dukungan untuk menjadikan Prabowo sebagai presiden dinilainya memiliki konsekuensi ideologis yang jauh lebih besar.

Ia melihat keputusan tersebut sebagai salah satu perubahan yang membuat dirinya mempertanyakan konsistensi nilai politik Jokowi. Bagi Yunarto, pilihan politik seorang pemimpin semestinya juga mempertimbangkan kesesuaian gagasan dan arah program yang akan dijalankan.

Kritik Yunarto tidak berhenti pada dukungan kepada Prabowo. Ia juga menyoroti apa yang ia nilai sebagai kecenderungan politik dinasti ketika Jokowi masih menjabat sebagai presiden.

Yunarto menyebut terdapat pergeseran dari pola politik yang sebelumnya ia pahami sebagai pendekatan dari bawah ke atas menuju pola yang sangat terpusat dari atas ke bawah. Ia menilai perubahan tersebut bertentangan dengan citra awal Jokowi yang dianggap mewakili pendekatan politik berbeda.

Dalam pandangannya, persoalan dinasti politik menjadi salah satu alasan utama yang membuat dukungan terhadap Jokowi tidak lagi dapat dipertahankan. Yunarto membandingkannya dengan era Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Soekarnoputri, yang menurut penilaiannya tidak menunjukkan praktik serupa seekstrem yang ia kritik.

Yunarto sendiri mengaku sejak awal tertarik pada Jokowi bukan karena hubungan personal atau peluang memperoleh jabatan. Ia mengikuti nilai yang dianggap dibawa Jokowi, termasuk latar belakangnya yang bukan ketua partai dan keberhasilannya memimpin Solo.

Gaya komunikasi Jokowi yang egaliter juga menjadi bagian dari daya tarik tersebut. Yunarto menilai kombinasi itu membuat Jokowi memiliki karakter politik yang berbeda dibandingkan sejumlah figur lain ketika mulai dikenal secara nasional.

Baca Juga: Yunarto Wijaya Ungkap Alasan Dulu Dukung Jokowi: Bukan karena Jabatan, tetapi.....

Selama Jokowi menjadi presiden, Yunarto mengatakan dirinya masih dapat menerima beberapa hal yang berada di wilayah abu-abu. Ia memahami politik tidak selalu berjalan dalam batas hitam dan putih, tetapi menilai terdapat keputusan tertentu yang akhirnya melampaui batas toleransinya.

Titik perubahan itu, menurut Yunarto, terjadi pada 2023 menjelang Pemilihan Presiden 2024. "Beliau mengambil posisi yang totally menegasikan semua yang kita lihat ada sebagai nilai-nilai itu dalam dirinya," ujarnya.

Yunarto kemudian menilai perkembangan politik setelahnya memperlihatkan ketidaksesuaian gagasan yang ia persoalkan. "Apa yang saya sebutkan barusan tadi sekarang terbukti. Perlahan terbuka ketidaksesuaian pemikiran. Tidak pernah ada perbincangan mengenai program," kata dia.

Pernyataan Yunarto menempatkan dukungan Jokowi kepada Prabowo dan posisi Gibran sebagai bagian dari kritiknya terhadap arah politik mantan presiden tersebut.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama