Mutasi 88 Perwira, Jenderal Suyudi Lagi Main Simbol Politik Buktikan Lebih Setia ke Prabowo
Kredit Foto: Divhumas Polri
Pengamat kebijakan publik, Choirul Anam, menyoroti langkah cepat Jenderal Pol Suyudi Ario Seto setelah resmi dilantik sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri).
Hanya sehari pasca-pelantikannya oleh Presiden Prabowo Subianto pada 1 Oktober 2026, Suyudi langsung melakukan perombakan besar-besaran di tubuh Polri.
Melalui Surat Telegram Nomor ST/2205/X/KEP./2026 tertanggal 2 Oktober 2026, Kapolri memutasi dan merotasi 88 perwira tinggi dan menengah.
Dari total tersebut, 70 personel mendapat promosi atau jabatan baru, yang mencakup perubahan pada 14 jabatan Pejabat Utama Mabes Polri dan 19 Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda).
Secara administratif, pihak kepolisian menyebut mutasi ini sebagai dinamika organisasi, pembinaan karier, dan upaya penyegaran untuk merespons kebutuhan masyarakat.
Namun, Anam menilai bahwa dalam politik pemerintahan, keputusan personalia di momen krusial kerap mengundang pembacaan simbolik, khususnya terkait jumlah perwira yang dimutasi, yakni 88 orang.
Angka 8 dinilai memiliki ikatan kuat dengan Presiden Prabowo Subianto. Sejak meniti karier di militer hingga ke kancah politik nasional, Prabowo identik dengan sandi "08".
Bahkan, Prabowo pernah mengaitkan kedekatan angka tersebut dengan posisinya saat ini sebagai Presiden Republik Indonesia ke-8.
"Apakah 88 personel yang dimutasi Suyudi sengaja dipilih untuk mengirim pesan penghormatan kepada Prabowo? Tidak ada keterangan resmi Polri. Tetapi sebagai simbol politik, kebetulan tersebut sulit untuk tidak menarik perhatian: dua angka delapan berdiri berdampingan pada keputusan besar pertama Kapolri baru," papar Anam.
Dalam kacamata simbolik, Anam memaknai angka 88 sebagai penegasan ganda atas arah "08". Hal ini menyiratkan pesan bahwa kepemimpinan Polri di bawah komando Jenderal Suyudi siap bergerak tegak lurus dengan garis pemerintahan Presiden Prabowo, menciptakan kesatuan arah antara kebijakan keamanan dan agenda nasional.
Lebih lanjut, Anam menegaskan bahwa tolok ukur loyalitas Jenderal Suyudi kepada Presiden Prabowo tidak hanya dilihat dari simbol kedekatan semata, melainkan dari keselarasan visi kerakyatan.
Dalam pidato pelantikannya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa orientasi utama kekuasaan harus dijalankan sepenuhnya untuk kepentingan rakyat.
Visi tersebut dinilai selaras dengan slogan yang dibawa oleh Kapolri Jenderal Suyudi, yakni "Polisi Bersama Masyarakat." Kesamaan pijakan ini diharapkan mampu mewujudkan institusi kepolisian yang lebih berpihak pada kebutuhan dan perlindungan masyarakat luas.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: