BI Klaim Pelemahan Rupiah Masih Sejalan dengan Pergerakan Mata Uang Regional
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka melemah pada perdagangan Kamis (15/10/2026). Rupiah berada di Rp17.948 atau melemah 45 poin atau 0,25 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.903 per dolar AS.
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan secara umum, pergerakan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan (regional), dengan pelemahan terbatas secara quarter-to-date (QTD) sebesar 0,17%.
"Cadangan devisa juga tercatat terjaga di level USD146,3 miliar pada akhir September 2026," kata Ramdan dalam pernyataannya, Kamis (15/10/2026).
Ramdan membeberkan pelemahan rupiah ripicu beberapa faktor. Pertama rilis data inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan dan meningkat dari periode sebelumnya mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga AS yang lebih agresif oleh The Fed.
Selain itu, ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak tetap tinggi di atas US$105 per barel dan meningkatkan risiko fiskal ke depan. Indeks dolar AS (DXY) sempat meningkat tajam ke level tertinggi sejak Mei 2025, dan yield US Treasury tenor 2 tahun sempat naik 12 bps ke level 4,90%.
"Memburuknya sentimen risk off tersebut mendorong penguatan US$ serta tekanan arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi," jelas dia.
Baca Juga: Rupiah Kembali Tertekan di Rp17.948 per Dolar AS pada Kamis Pagi
Baca Juga: Rupiah Melemah Tipis ke Rp17.903 per Dolar AS, Tertekan Sentimen Proyeksi IMF
Melihat situasi tersebut, Bank Indonesiahadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai fundamentalnya.
Intervensi juga terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
"Selain itu, Bank Indonesia mengelola struktur suku bunga di pasar uang dengan menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang. Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif," jelas dia.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: