Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (15/10/2026). Berdasarkan data BEI, IHSG turun 79,244 poin atau 1,33% ke level 5.863,78, dari posisi penutupan sebelumnya di 5.943,02.
Sepanjang perdagangan, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 5.917,69 dan terendah 5.804,210. Indeks dibuka di level 5.917,13, tetapi tak mampu bertahan dan terus bergerak di bawah penutupan hari sebelumnya.
Tekanan jual terlihat meluas di pasar saham domestik. Sebanyak 567 saham ditutup melemah, sementara hanya 108 saham yang menguat. Adapun 120 saham lainnya berakhir stagnan.
Aktivitas perdagangan terbilang ramai. Total volume transaksi mencapai 35,212 miliar saham, dengan nilai transaksi sebesar Rp13,436 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 1.690.450 kali.
Sementara itu, kapitalisasi pasar saham di BEI tercatat sebesar Rp10.298,148 triliun.
IHSG Dipengaruhi Harga Minyak dan Suku Bunga The Fed
Phintraco Sekuritas memprediksi IHSG bergerak sideways pada perdagangan Kamis (15/10/2026). Indeks akan bergerak di kisaran level 5.800–6.000.
"Pelaku pasar perlu mencermati kenaikan harga minyak dunia serta ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang berpotensi menekan sentimen pasar," tulis Phintraco Sekuritas dalam riset hariannya.
Sentimen global masih dibayangi pelemahan bursa saham Wall Street pada Rabu (14/10/2026). Penurunan tersebut dipicu data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari perkiraan serta tekanan pada saham-saham teknologi.
Inflasi berdasarkan Consumer Price Index (CPI) AS tercatat meningkat 0,6% secara bulanan atau month on month (mom) dan 3,7% secara tahunan atau year on year (yoy) pada September 2026.
"Angka tersebut memperkuat kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga, yang dapat meningkatkan biaya pendanaan dan menekan valuasi saham," ungkap Phintraco Sekuritas.
Dari Asia, inflasi Tiongkok tercatat naik 0,9% YoY pada September 2026. Sementara itu, ekspor negara tersebut melonjak 36,3% YoY pada periode yang sama, memberikan gambaran mengenai perkembangan aktivitas perdagangan di ekonomi terbesar kedua dunia itu.
Baca Juga: IHSG Anjlok 2%, Ini Biang Keroknya
Baca Juga: IHSG Melemah 2,22% ke Level 5.811,32, Analis: Tertekan Aksi Jual Seluruh Sektor Saham
Pergerakan harga komoditas juga menjadi perhatian. Harga minyak mentah Brent menguat ke level US$106 per barel pada Rabu (14/10). Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan biaya bagi sejumlah sektor usaha serta memengaruhi ekspektasi inflasi global.
Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun turun 2 basis poin ke level 5,19%. Sebaliknya, harga emas spot melemah 1,5% ke posisi US$4.093 per troy ounce.
Dengan beragam sentimen tersebut, IHSG diperkirakan bergerak terbatas dalam rentang 5.800–6.000 pada perdagangan hari ini.
"Investor disarankan mencermati perkembangan inflasi AS, arah kebijakan The Fed, dan pergerakan harga minyak sebagai faktor yang dapat memengaruhi volatilitas pasar," jelas Phintraco Sekuritas.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: