Hitung Riwayat Pendidikan Gibran, Sosiolog Singapura Sebut Hanya Setara SMP Plus
Kredit Foto: Ist
Riwayat pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali menjadi perbincangan setelah sosiolog Nanyang Technological University (NTU) Singapura, Prof. Sulfikar Amir, Ph.D., menjelaskan perbedaan sistem pendidikan Singapura dan Indonesia.
Dalam perbincangan di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP yang tayang pada 15 Oktober 2026, Sulfikar menjelaskan bahwa pendidikan di Orchid Park Secondary School yang ditempuh Gibran berada pada jenjang Secondary School. Dalam sistem pendidikan Singapura, jenjang tersebut setara dengan SMP hingga kelas 1 SMA di Indonesia.
Penjelasan itu disampaikan saat Abraham Samad membahas polemik mengenai riwayat pendidikan dan ijazah Gibran. Sulfikar menerangkan bahwa Singapura menerapkan sistem pendidikan yang mengacu pada sistem Inggris atau British, dengan pembagian jenjang yang berbeda dari Indonesia.
Di Singapura, siswa menempuh pendidikan Primary School selama enam tahun, kemudian melanjutkan ke Secondary School selama empat tahun. Setelah menyelesaikan jenjang tersebut, siswa menghadapi ujian yang dikenal sebagai O Level atau Ordinary Level.
“Kalau kita setarakan di Indonesia, Primary School setara dengan SD. Secondary School itu setara dengan SMP plus kelas 1 SMA. Nah, apa yang selevel atau setara dengan SMA di Singapura ini adalah A Level atau Junior College,” jelas Sulfikar.
Berdasarkan catatan yang merujuk pada data Komisi Pemilihan Umum (KPU), Gibran menyelesaikan pendidikan SD dan dua tahun pertama SMP, yakni kelas 7 dan 8, di Solo. Setelah itu, ia pindah ke Singapura dan bersekolah di Orchid Park Secondary School.
Dengan merujuk pada struktur pendidikan tersebut, Sulfikar menjelaskan bahwa masa pendidikan Gibran di sekolah itu mencakup kelas 9 dan 10. Ia menegaskan bahwa jenjang Secondary School tidak setara dengan pendidikan SMA secara keseluruhan dalam sistem Indonesia.
Sulfikar, yang pernah menjadi koordinator penerimaan mahasiswa baru di departemennya di NTU, juga menjelaskan persyaratan masuk perguruan tinggi negeri di Singapura. Menurut dia, universitas terkemuka di negara tersebut tidak menerima mahasiswa hanya dengan bekal ijazah O Level.
Untuk masuk universitas negeri, calon mahasiswa harus menyelesaikan A Level melalui Junior College atau menempuh jalur politeknik yang setara dengan pendidikan SMK.
Dalam diskusi tersebut, Abraham kembali meminta penegasan mengenai kesimpulan dari penjelasan Sulfikar.
“Berarti jelasin ke netizen ya bahwa beliau ini sebenarnya enggak tamat SMA di Singapura?” tanyanya.
Sulfikar kemudian meluruskan pernyataan tersebut.
“Bukan tidak tamat SMA, (tapi) tidak pernah mengikuti pendidikan SMA di Singapura,” tegas Sulfikar.
Pembahasan juga menyinggung kelanjutan pendidikan Gibran di Management Development Institute of Singapore (MDIS). Sulfikar menjelaskan bahwa MDIS merupakan institusi swasta, bukan universitas negeri.
Menurut Sulfikar, institusi swasta seperti MDIS tidak memiliki kewenangan menerbitkan ijazah sendiri untuk program yang menggunakan kurikulum perguruan tinggi mitra. Dalam skema tersebut, institusi pendidikan swasta bekerja sama dengan perguruan tinggi luar negeri, termasuk University of Bradford di Inggris, yang menjadi penerbit ijazah sesuai program yang ditempuh.
Penjelasan Sulfikar dalam diskusi tersebut berfokus pada kesetaraan jenjang pendidikan di Singapura dan Indonesia serta perbedaan jalur pendidikan menuju perguruan tinggi. Riwayat pendidikan Gibran kembali menjadi perhatian publik seiring perdebatan mengenai latar belakang pendidikannya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: