Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bakal Tanam Sagu untuk Tekan Karhutla Gambut, Ini Kata Kepala BPGM Baru

Bakal Tanam Sagu untuk Tekan Karhutla Gambut, Ini Kata Kepala BPGM Baru Kredit Foto: BPMI
Warta Ekonomi, Jakarta -

Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove (BPGM) tengah menyiapkan strategi kultural untuk menekan angka kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di area gambut, yakni dengan mendorong budidaya komoditas pertanian yang ramah air. Langkah ini diambil guna memastikan upaya rekayasa hidrologi pada lahan gambut tidak mengorbankan perputaran ekonomi masyarakat setempat.

Kepala BPGM, Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, menjelaskan bahwa masalah utama karhutla di Indonesia berakar pada perubahan sifat natural gambut dari basah menjadi kering, terutama akibat masifnya pembuatan kanal di area kubah gambut yang seharusnya berfungsi sebagai menara air. Oleh karena itu, selain upaya fisik seperti penutupan kanal, pelibatan masyarakat dalam memilih jenis komoditas tanam menjadi sangat krusial.

"Kita harus mengaktifkan peran masyarakat dalam mengelola gambut agar tidak membudidayakan komoditas yang anti-air. Kita dorong komoditas yang ramah air, misalnya ada sagu, jelutung, dan nanas," ujar Satyawan.

Satyawan menegaskan bahwa transisi jenis komoditas ini ditujukan agar kesejahteraan warga tetap terjaga, meskipun ekosistem lahan gambut dikembalikan ke kondisi asalnya yang basah dan lembap. "Jangan sampai juga nanti perlindungan gambut mematikan ekonomi masyarakat. Ini yang menjadi tugas kita," tambahnya.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Kepala BPGM lainnya, Mayjen TNI Sriyanto, menekankan bahwa ekosistem gambut memiliki potensi ekonomi yang sangat besar jika dikelola dengan paradigma yang tepat. Menurutnya, pemanfaatan lahan gambut untuk menggerakkan roda ekonomi desa tidak melulu harus bergantung pada pembukaan lahan untuk komoditas kering seperti sawit.

Sriyanto mencontohkan tanaman sagu yang sangat sejalan dengan visi ketahanan pangan (food security) yang sering ditekankan oleh Presiden. Sagu dinilai sangat potensial dikembangkan di tanah gambut tanpa mengganggu cadangan air. Selain itu, pohon jelutung juga memiliki nilai jual tinggi di sektor industri, salah satunya sebagai bahan baku permen karet.

"Masyarakat harus langsung menerima manfaat dari penanaman sagu di lahan gambut. Intinya adalah pelibatan semua pemangku kepentingan untuk menciptakan desa-desa yang memiliki sense of belonging terhadap gambut dan mangrove," jelas Sriyanto.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: