Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk 8,01% ke level 5.393,92 pada pukul 09.07 WIB, Jumat (16/10/2026). Anjloknya indeks memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt) selama 30 menit.
Setelah perdagangan kembali dibuka, tekanan jual masih berlanjut. IHSG bahkan sempat merosot hingga 11%, menunjukkan kuatnya tekanan di pasar saham domestik.
Setelah perdagangan kembali dibuka, tekanan jual masih berlanjut. IHSG bahkan sempat merosot hingga 11%, menunjukkan kuatnya tekanan di pasar saham domestik.
Pelemahan terjadi di seluruh sektor. Sebanyak 11 indeks sektoral Bursa Efek Indonesia (BEI) kompak berada di zona merah.
Sektor barang baku mencatat penurunan terdalam, yakni 13,67%, disusul sektor infrastruktur yang melemah 13,12%. Sementara itu, sektor energi terkoreksi 12,35%.
Tekanan juga melanda sektor industri yang turun 11,66% dan sektor teknologi yang melemah 8,29%. Sektor keuangan, yang mencakup sejumlah saham berkapitalisasi besar, turut tertekan. Indeks sektor ini tercatat turun 7,10%.
Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menilai tekanan pasar perlu dilihat dari besarnya risiko yang sedang diperhitungkan investor terhadap pasar modal Indonesia.
Menurutnya, apabila perubahan klasifikasi Indonesia oleh MSCI benar-benar terjadi, tekanan dapat semakin terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar.
Baca Juga: IHSG Ambruk 8%, Perdagangan Saham di BEI Kena Trading Halt!
Baca Juga: OJK Buka Suara soal Ancaman MSCI Turunkan Status Pasar RI
Baca Juga: MSCI Ancam Turunkan Status Pasar Saham RI, Ini Respons BEI
"Jika terjadi penyesuaian portofolio secara serentak, tekanan jual berpotensi terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki bobot indeks signifikan dan kepemilikan asing tinggi, termasuk sejumlah saham perbankan besar," kata Nafan dalam keterangannya pada Jum'at, (16/10/2026).
Kondisi tersebut dapat meningkatkan volatilitas pasar dan memperbesar risiko koreksi IHSG, terutama apabila bersamaan dengan pelemahan rupiah serta arus keluar modal asing yang berkelanjutan.
"Namun, besarnya dampak tetap bergantung pada keputusan final MSCI, jadwal implementasi, dan kemampuan investor domestik menyerap tekanan jual tersebut," ujarnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: