Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Ketua Umum Partai Kebangkitan Nusantara (PKN), Gede Pasek Suardika, melontarkan kritik keras terkait anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ia sebut sebagai kondisi terburuk sepanjang sejarah perekonomian Indonesia.
Pasek menilai guncangan di pasar modal menjadi bukti nyata hilangnya kepercayaan investor internasional terhadap tata kelola ekonomi nasional.
Pasek menyoroti keputusan lembaga riset global MSCI yang menempatkan pasar modal Indonesia setara dengan Zimbabwe, yakni terlempar dari Emerging Market langsung ke Stand Alone Market tanpa melalui status Frontier Market.
Ia mengungkapkan bahwa empat saham perbankan terbesar nasional, BBNI, BBCA, BMRI, dan BBRI mengalami penurunan drastis hingga menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB), bahkan ada yang terkoreksi hingga 15 persen.
"IHSG kita sekarang 'kesepekang' alias ambruk dalam kesendirian. Posisi ini tidak pernah terjadi dan menjadi tanda nyata investor asing sudah tidak percaya dengan pasar Indonesia. Mereka kabur besar-besaran," tegas Pasek.
Menurut Pasek, kepanikan pasar modal dipicu oleh pembacaan postur APBN pemerintah yang dinilai terlalu memprioritaskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (Kopdes), di saat alokasi subsidi energi justru terus dipangkas.
Kondisi tersebut makin diperberat oleh tekanan nilai tukar rupiah yang bertahan di atas Rp 18.000 per Dolar AS, padahal Indonesia masih harus menanggung beban impor Bahan Bakar Minyak (BBM) yang sangat besar.
Dampak keterpurukan ekonomi dinilai telah merembet secara masif ke sektor riil. Pasek menyebut krisis pasokan BBM memukul pergerakan ekonomi masyarakat bawah, khususnya pelaku UMKM dan pengemudi transportasi daring (Gojek dan Grab).
"Pertumbuhan UMKM melambat karena jalur distribusi mereka terhambat. Tingginya kebutuhan masyarakat tidak mampu terlayani karena kesulitan BBM. Sektor riil dan sektor saham sama-sama terguncang," ujarnya.
Pasek meminta pemerintah segera melakukan introspeksi menyeluruh dan menghentikan pemborosan anggaran di tengah jumlah pejabat birokrasi yang kian membengkak. Ia mengimbau masyarakat untuk lebih peduli pada kondisi krisis agar Indonesia tidak semakin terpuruk.
"Sektor riil dan sektor saham terguncang. Disisi lain over pejabat terus meningkat dan tergemoy juga sepanjang sejarah," kritiknya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: