Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Orangtua Siswa di Singapura Desak Kelas Ber-AC Imbas Kabut Asap dari Indonesia Kini Semakin Parah

Orangtua Siswa di Singapura Desak Kelas Ber-AC Imbas Kabut Asap dari Indonesia Kini Semakin Parah Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Sejumlah orangtua di Singapura mendesak pemerintah segera memasang pendingin udara (AC) di ruang kelas sekolah, meniru standar Hong Kong, seiring memburuknya kabut asap lintas batas akibat kebakaran hutan di Indonesia.

Desakan ini semakin kuat setelah Indeks Standar Polutan (PSI) satu jam di wilayah barat Singapura mencapai 288 pada Rabu sore. Kabut asap yang berasal dari kebakaran di Sumatra dan Kalimantan membuat kualitas udara di negara kota itu memburuk drastis.

Alice Pang, manajer salon yang memiliki anak kelas Primary 4, menceritakan pengalaman putrinya.

“Anak saya bilang jarak pandang di dalam kelas seperti di Genting Highlands. Padahal itu kabut air, sementara di sini kabut asap,” ujar Pang dikutip dari This Week in Asia.

Putrinya sudah menderita sinus kronis, dan kabut asap membuat matanya berair. Meskipun sekolah menyediakan air purifier, Pang menilai alat tersebut tidak cukup efektif.

"Terlalu panas juga buat siswa. Pemerintah harus bertindak lebih serius,” tegasnya.

Saat ini, AC hanya tersedia di beberapa fasilitas sekolah, seperti ruang musik. Banyak kelas masih terbuka dan mengandalkan ventilasi alami.

Seorang anggota parlemen oposisi yang sebelumnya mendorong pemasangan AC di kelas karena cuaca panas, kini menilai usulannya semakin mendesak akibat kabut asap.

Menteri Pendidikan Desmond Lee menyatakan bahwa pelajaran dan ujian nasional tetap berlangsung di ruangan tertutup yang dilengkapi air purifier.

Ia membuka kemungkinan penutupan sekolah jika prakiraan PSI 24 jam masuk kategori berbahaya (di atas 300).

Pemerintah Singapura telah membagikan masker N95 kepada kelompok rentan, termasuk anak usia 7–16 tahun, serta menyediakan ruang ber-AC di community club dan pusat komite warga.

Di seberang Selat Johor, Malaysia telah menutup sekolah di beberapa negara bagian. Berdasarkan pedoman federal, institusi pendidikan wajib ditutup jika Air Pollutant Index (API) melebihi 180, atau tetap di atas 150 selama tiga hari berturut-turut.

Dokter umum Lawrence Ng menjelaskan bahwa kabut asap dapat memicu infeksi saluran pernapasan atas, bronkitis, konjungtivitis, rhinitis alergi, dan asma. “Anak-anak memiliki saluran napas yang lebih kecil sehingga lebih rentan terhadap penyempitan akibat polutan,” katanya.

Kementerian Pendidikan Singapura merujuk pada protokol pengelolaan kabut asap yang sudah ada, termasuk menghindari aktivitas fisik jika PSI berada di kisaran 200–300 dan menempatkan siswa di ruang tertutup ber-AC jika kondisi memburuk.

Kabut asap lintas batas ini kembali menguji kesiapan infrastruktur sekolah Singapura dalam menghadapi krisis lingkungan regional.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat

Tag Terkait: