Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Siapkan Desa Bahasa Mandarin, Jabar Bidik Peluang Kerja di Kawasan Industri

Siapkan Desa Bahasa Mandarin, Jabar Bidik Peluang Kerja di Kawasan Industri Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Warta Ekonomi, Bandung -

Penguasaan bahasa asing menjadi salah satu kompetensi yang ingin diperkuat Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja lokal di tengah berkembangnya investasi asing.

Salah satu langkah yang disiapkan adalah menjadikan Desa Muntur, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, sebagai Desa Bahasa Mandarin untuk mendukung kebutuhan komunikasi dan alih pengetahuan di kawasan industri.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan, program Desa Bahasa Asing akan mulai dicanangkan pada November 2026. Program tersebut dirancang agar masyarakat di setiap kabupaten dan kota memiliki akses pembelajaran bahasa asing yang relevan dengan kebutuhan lingkungan dan peluang kerja di daerah masing-masing.

Pemprov Jabar menyiapkan empat pilihan bahasa, yakni Mandarin, Arab, Inggris, dan Jepang. Pemerintah provinsi juga akan menyediakan tenaga pengajar, sedangkan pemerintah kabupaten dan kota diberikan kewenangan untuk menentukan desa yang akan menjadi lokasi pengembangan masing-masing bahasa.

Menurut Dedi, Desa Muntur dinilai cocok menjadi pusat pembelajaran bahasa Mandarin karena berada di sekitar Kawasan Industri Losarang, yang memiliki investor asal China.

"Desa Muntur ini cocok dijadikan desa bahasa Mandarin karena lokasinya di Kawasan Industri Losarang, dan terdapat investor asing asal Tiongkok sehingga skill tersebut akan bermanfaat untuk bekerja di sini," ujar Dedi, Jumat (16/10/2026).

Pengembangan kompetensi bahasa tersebut diharapkan dapat memperluas peluang masyarakat untuk mengakses pekerjaan di sektor industri, terutama perusahaan yang memiliki tenaga kerja asing dan membutuhkan komunikasi lintas bahasa.

Di PT Food Packaging Jaya, misalnya, terdapat 158 tenaga kerja asing asal China yang bertugas melatih pekerja lokal agar mampu menghasilkan produk sesuai kualifikasi dan standar yang ditetapkan pembeli.

Dalam konteks ini, penguasaan bahasa Mandarin berpotensi membantu pekerja lokal memahami instruksi kerja, memperlancar koordinasi dengan tenaga ahli asing, serta mendukung proses transfer pengetahuan dan keterampilan di lingkungan produksi.

Dedi menyebut, tenaga pengajar untuk program tersebut akan melibatkan lembaga pendidikan di Bandung yang memiliki pengalaman dalam pembelajaran bahasa Mandarin dan pengiriman peserta didik ke berbagai negara.

Meski demikian, efektivitas program akan bergantung pada kesesuaian materi pembelajaran dengan kebutuhan perusahaan, akses masyarakat terhadap pelatihan, serta kemampuan peserta menerapkan keterampilan bahasa dalam pekerjaan sehari-hari.

Selain pengembangan kompetensi, Pemprov Jabar juga mendorong perluasan akses masyarakat terhadap informasi lowongan kerja melalui bursa kerja daring.

Dalam kegiatan di Indramayu tersebut, tersedia 644 lowongan dari 23 perusahaan. Bursa kerja disiarkan melalui akun TikTok Dedi Mulyadi dan dipandu oleh Bupati Indramayu Lucky Hakim.

Lucky menjelaskan, sistem rekrutmen menggunakan mekanisme pembobotan berdasarkan domisili pelamar. Penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan koordinat lokasi perusahaan dan Nomor Induk Kependudukan (NIK) pelamar.

Skema tersebut ditujukan untuk memberikan nilai tambah bagi warga yang tinggal di sekitar lokasi perusahaan, tanpa menghilangkan persyaratan kompetensi dasar yang ditetapkan pemberi kerja.

Baca Juga: Mitigasi Risiko Sesar Lembang, Jabar Siapkan Infrastruktur Pemerintahan di Dua Daerah

"Sistem pendaftarannya terbuka, tetapi ada scoring. Jika pelamar merupakan warga lokal di titik perusahaan berdiri, maka akan mendapatkan poin plus. Konsepnya mirip zonasi sekolah, tetapi kualifikasi dasarnya tetap harus terpenuhi," kata Lucky.

Pengembangan Desa Bahasa Asing dan bursa kerja daring menjadi dua pendekatan yang disiapkan Pemprov Jabar untuk mempertemukan kebutuhan industri dengan kapasitas tenaga kerja lokal.

Ke depan, keberhasilan program tersebut akan ditentukan oleh kemampuan pemerintah daerah memastikan pelatihan menjawab kebutuhan riil dunia usaha sekaligus membuka akses kerja yang lebih luas bagi masyarakat setempat.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Saepulloh
Editor: Fajar Sulaiman