Kredit Foto: Christian Andy
Rocky Gerung melontarkan pernyataan tajam meski kini duduk sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) RI.
Alih-alih melunakkan kritik setelah masuk ke lingkaran pemerintahan, ia justru menyebut Istana sebagai sarang koruptor dan mengklaim kehadirannya di sana untuk membantu Presiden Prabowo Subianto menangkap para pelaku korupsi.
Dalam program ROSI yang tayang di KompasTV, Rocky menegaskan bahwa jabatan di lingkungan pemerintahan tidak membuatnya meninggalkan prinsip independensi. Ia mengaku tetap berpegang pada logika dan etika, sekalipun kini menjadi bagian dari lembaga yang memberikan pertimbangan kepada presiden.
Baca Juga: Parpol Terkesan Ogah Dukung Gibran di Pemilu 2029, Ini Respons Jokowi
"Istana itu masih sarang koruptor, saya edit nggak? Memang sarang koruptor. Baru kemarin, dua jam lalu, BNPB kena lagi, Kepala MBG (BGN) ditangkap, orang dekatnya presiden," kata Rocky dalam program ROSI yang tayang di KompasTV, belum lama ini.
Menurut Rocky, mengubah pernyataannya hanya karena telah menjadi anggota Wantimpres justru berarti mengingkari prinsip yang selama ini dipegangnya. Ia pun menegaskan tidak ingin memoles pandangannya demi menyesuaikan diri dengan lingkungan Istana.
"Masa saya bilang Istana bukan sarang koruptor? Itu namanya saya bohongi logika saya dan bohongi etika saya," ujarnya.
Rocky bahkan mengakui bahwa bergabung dengan Wantimpres berarti dirinya turut masuk ke lingkungan yang ia sebut sebagai sarang koruptor. Namun, ia mengklaim memiliki tujuan berbeda, yakni membantu Prabowo memberantas korupsi dari dalam pemerintahan.
"Buat bantuin presiden nangkep koruptor itu, apalagi coba? Nangkep dari luar? Gimana nangkep dari luar?" ungkap Rocky.
Ia juga menilai posisinya di Wantimpres dapat membuat kritik dan pertimbangan yang disampaikannya lebih efektif menjangkau presiden. Dengan berada di dalam lingkaran pemerintahan, ia berharap gagasan dan pandangannya bisa langsung menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan.
Selain alasan tersebut, Rocky mengungkapkan bahwa keputusannya menerima tawaran menjadi anggota Wantimpres juga berkaitan dengan arah kebijakan Prabowo yang dinilainya berbeda secara ideologis dari pemerintahan Joko Widodo (Jokowi).
"Pak Prabowo baru mengerti sosialisme setelah dia harus bikin jarak ideologi dengan pemerintahan sebelumnya. Akibatnya apa? Arah kebijakan diubah, struktur pemerintah diubah," ucap Rocky.
Ia menilai perubahan arah pemerintahan tersebut tidak sebatas pada penyesuaian kebijakan dan struktur birokrasi. Menurutnya, terdapat pergeseran ideologi yang menjadi dasar dalam menentukan arah pemerintahan.
"Lalu orang anggap state socialism, memang state socialism, sebelumnya kan neoliberalism. Jadi ini betul-betul pindah ideologi," ujarnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: