10 Tahun Jokowi Selalu Downgrade Lawan Politik, Demokrat: Kami Ingat Bendera Kami Dirobek-robek
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Pernyataan Mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang merasa dirinya menjadi korban operasi politik dan upaya downgrade reputasi di akhir masa kepemimpinannya, memicu reaksi sinis dari Partai Demokrat. Mereka membongkar kembali perlakuan represif dan operasi senyap yang mereka alami selama rezim dari Jokowi.
Bagi Politikus senior Partai Demokrat, Cipta Panca Laksana, Jokowi yang komplain tentang operasi politik yang menyerang polemik ijazah anak sulungnya saat ini terasa sangat ironis. Ia mengingatkan bahwa apa yang dialami keluarga mantan presiden itu hari ini adalah karma politik atas praktik serupa yang pernah mereka lakukan secara sistematis terhadap lawan-lawan politik.
Baca Juga: Eks Kopassus Berikan Nilai Gibran Nol Besar: Jangankan Jadi Wapres, Tidak Cocok Bahkan Jadi Ketua RT
Panca menyoroti bahwa selama 10 tahun memegang kendali pemerintahan, sosok itu dinilai tidak segan-segan memobilisasi instrumen intelijen negara untuk menghancurkan citra dan mematikan ruang gerak kelompok oposisi.
Ia secara spesifik mengungkit dugaan penyalahgunaan wewenang Badan Intelijen Negara (BIN). Menurutnya, lembaga itu disetir untuk memata-matai para tokoh bangsa, termasuk menyasar Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
“Lupa dia 10 tahun berkuasa kerjaannya mendowngrade lawan politiknya. BIN dipakai untuk memata-matai lawan politiknya,” ungkap Panca dikutip, Sabtu (17/10/2026).
Kemarahan Panca bukan tanpa dasar. Ia membuka kembali luka lama partai berlambang bintang mercy tersebut, tepatnya ketika lawatan dari para petinggi Demokrat ke Pekanbaru, Riau.
Demokrat saat itu mengalami teror politik yang sangat sistematis, di mana ribuan bendera partai dan baliho penyambutan secara masif dirusak, diturunkan dan dirobek-robek oleh kelompok yang diduga kuat digerakkan oleh alat negara.
Panca yang saat itu mendampingi langsung dalam kunjungan tersebut, memberikan kesaksian mencengangkan mengenai betapa masifnya intimidasi psikologis yang dilakukan oleh aparatur intelijen.
“Gue ingat dulu di sana bendera kami diturunin dan dirobek-robek. Satu lantai hotel tempat kami nginap disewa aparat BIN,” tuturnya.
Tindakan intimidasi dengan menyewa satu lantai hotel secara penuh oleh pihak intelijen di lokasi yang sama dengan penginapan elitenya dinilai sebagai bentuk unjuk kekuatan (show of force) dan operasi psikologis untuk membungkam kritik dari Demokrat ke Jokowi.
Panca, melihat Jokowi kini kelimpungan menghadapi opini publik yang memojokkan terkait isu ijazah dan wacana pemakzulan, merasa bahwa keadilan politik akhirnya menemukan jalannya sendiri. Ia menutup pernyataannya dengan sindiran tajam yang mewakili perasaannya atas penindasan politik selama satu dekade terakhir.
“Rasain sekarang!” tutur.
Adapun Jokowi yang sebelumnya buka suara terkait polemik mengenai ijazahnya dan putranya, Gibran Rakabuming Raka. Menurutnya, hal itu sengaja dilontarkan sebagai upaya sistematis untuk merusak reputasi politik mereka berdua.
Baca Juga: Balas Tudingan 'Penumpang Gelap' Jokowi, PDIP: Lolosnya Gibran Hasil Operasi Politik Sebenarnya
“Sekali lagi, ini operasi politik untuk mendowngrade reputasi politik seseorang,” kata Jokowi.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: