- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
IHSG Rontok 14,91% dalam Sepekan, BBCA hingga ASII Masuk Daftar Saham Rentan
Kredit Foto: Uswah Hasanah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 14,91% atau 908,65 poin sepanjang pekan perdagangan terakhir, dari 6.093,76 menjadi 5.185,11. Tekanan pasar dipicu kekhawatiran investor terhadap rencana reklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI), yang berpotensi memicu arus modal keluar hingga Rp132 triliun.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Ardy Irianto Subekti, memperkirakan potensi arus modal keluar atau outflow mencapai Rp105 triliun hingga Rp132 triliun, setara US$5,8 miliar–US$7,3 miliar, apabila perubahan klasifikasi tersebut benar-benar terjadi.
Menurutnya, saham-saham berkapitalisasi besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), dan PT Astra International Tbk (ASII) menjadi emiten yang paling rentan terdampak.
Tekanan pasar memuncak pada Jumat (16/10/2026), setelah MSCI membuka konsultasi atas usulan perubahan klasifikasi Indonesia. Pada perdagangan tersebut, IHSG anjlok 11,57% ke level 5.185,11, menjadi penurunan harian terdalam sejak krisis 1998 sekaligus level terendah sepanjang tahun ini.
IHSG dibuka melemah 8,01% ke level 5.393,92 sehingga Bursa Efek Indonesia (BEI) langsung memberlakukan penghentian sementara perdagangan atau trading halt selama 30 menit. Tekanan berlanjut hingga sesi pertama ditutup turun 10,76% ke level 5.233, sebelum kembali melemah pada sesi kedua.
Secara mingguan, IHSG sempat melemah 2,59% pada Senin ke level 5.936,14, kemudian bergerak konsolidatif pada Selasa dan Rabu di kisaran 5.926–5.943. Pada Kamis, indeks turun 1,33% ke level 5.863,78 sebelum mengalami koreksi tajam pada akhir pekan.
"Investor asing mencatatkan net sell Rp2,92 triliun di sesi I yang dipimpin BBCA Rp1,98 triliun, BBRI Rp631 miliar, BMRI Rp485 miliar. Total net sell asing dalam sepekan mencapai Rp3,34 triliun dan YTD Rp88,19 triliun," ujar Ardy.
Pada Jumat, sebanyak 812 saham terkoreksi dan hanya 11 saham menguat, dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp32 triliun. Seluruh sektor saham mengalami pelemahan, dipimpin barang baku sebesar 13,37%, kesehatan 13,16%, dan infrastruktur 13%. Sementara itu, indeks LQ45 merosot 13,82% ke level 508,56.
Ardy menilai pelemahan IHSG dipengaruhi sentimen global dan domestik, dengan pengumuman MSCI menjadi pemicu utama tekanan di pasar saham Indonesia.
MSCI menyoroti persoalan transparansi struktur kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta konsistensi reformasi pasar modal. Konsultasi perubahan klasifikasi masih berlangsung, dengan batas akhir penyampaian masukan pada 30 April 2027 dan keputusan final paling lambat 30 Juni 2027.
Menurut Ardy, perubahan status tersebut berisiko mendorong investor global menyesuaikan portofolio mereka, terutama jika saham-saham Indonesia kehilangan posisi dalam indeks acuan yang digunakan manajer investasi internasional.
Di tengah tekanan tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) disebut telah menjatuhkan denda total Rp2,1 triliun terkait pelanggaran perdagangan saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Sejak Januari 2026, OJK juga telah menindak 835 pihak dengan sanksi lebih dari Rp390 miliar.
BEI disebut akan meminta klarifikasi kepada MSCI, sedangkan Danantara menyatakan kesiapan untuk mengakumulasi saham dengan fundamental kuat.
Dari eksternal, pasar global menghadapi kekhawatiran inflasi Amerika Serikat dan eskalasi konflik di Timur Tengah. Inflasi konsumen AS pada September tercatat 3,7% secara tahunan, melampaui ekspektasi pasar sebesar 3,6%. Sementara itu, indeks harga produsen atau PPI meningkat 1,3% secara bulanan dan 6,3% secara tahunan.
Kenaikan inflasi tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan lanjutan.
Tekanan juga datang dari pasar energi. Harga minyak Brent sempat menyentuh US$110 per barel pada Jumat setelah eskalasi serangan di sekitar Selat Hormuz mengganggu arus pengiriman minyak.
"Harga minyak yang tinggi dapat menjadi sentimen positif bagi emiten energi, tetapi sekaligus berisiko meningkatkan tekanan inflasi dan memperburuk pelemahan rupiah," tutupnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri