Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pemerintah Akui Kesulitan Padamkan Api Karhutla, 'Hujan Ada Dua: Alami dan Buatan...'

Pemerintah Akui Kesulitan Padamkan Api Karhutla, 'Hujan Ada Dua: Alami dan Buatan...' Kredit Foto: Ist
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengungkapkan kerumitan teknis dalam menangani bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Tito menjelaskan bahwa karakter kebakaran pada lahan gambut jauh lebih sulit ditanggulangi jika dibandingkan dengan tanah mineral.

Menurut Tito, perbedaan mendasar terletak pada kedalaman jangkauan api. Pada tanah mineral, proses pemadaman relatif lebih cepat dan mudah karena kobaran api hanya berada di permukaan tanah dan tidak merembet ke lapisan bawah.

Sebaliknya, pada lahan gambut, api mampu membakar hingga ke lapisan dalam di bawah permukaan. Kondisi ini menyebabkan api tetap menyala tersembunyi di dalam tanah meskipun permukaan atas terlihat padam.

"Ini pertama harus ada air dari udara, yaitu bentuk hujan. Hujan ini ada dua: hujan alami dan hujan buatan, cloud seeding, modifikasi cuaca," kata Tito kepada wartawan, Senin (19/10).

Untuk memasukkan pasokan air dalam skala besar ke lapisan dalam lahan gambut yang terbakar, pemerintah mengandalkan dua metode utama, yakni hujan (baik alami maupun Teknologi Modifikasi Cuaca/TMC) serta pengaliran air langsung dari sumber terdekat.

Selain pasokan air, Tito mencontohkan penggunaan teknologi bahan kimia untuk meningkatkan efektivitas pemadaman di titik-titik krusial seperti Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan. Salah satunya melalui pemanfaatan senyawa kimia surfaktan.

Surfaktan bekerja dengan cara menurunkan tegangan permukaan antara dua zat yang berbeda (seperti air dan minyak), sehingga air dapat meresap lebih cepat dan dalam ke dalam lapisan gambut.

Penggunaan cairan ini memungkinkan proses pemadaman berjalan lebih efisien walau dengan volume air yang terbatas.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat

Tag Terkait: