- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
Airlangga Santai IHSG Terjun ke 4.900: Itu Biasa, MSCI Ngancam-ngancam dikit
Kredit Foto: Istihanah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan hebat hingga sempat menyentuh level terendah sejak 2020. Namun, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai pelemahan tersebut hal biasa sebagai respons pasar terhadap sentimen negatif, termasuk pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai potensi perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia.
IHSG sempat merosot ke level 4.907,37 pada perdagangan Senin (19/10/2026), sebelum akhirnya ditutup melemah 3,64% atau 188,49 poin ke level 4.996,60. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak dalam rentang 4.907,37 hingga 5.012,86 dengan tekanan jual yang mendominasi pasar.
Mayoritas saham pun berakhir di zona merah. Sebanyak 656 saham tercatat melemah, sementara 100 saham stagnan dan hanya 43 saham yang berhasil menguat.
Baca Juga: Di Tengah Bertubi-tubinya Masalah RI, Anies Baswedan Pamer Prestasi
Menanggapi kondisi tersebut, Airlangga menyebut pergerakan IHSG tidak terlepas dari sentimen yang mempengaruhi psikologi investor. Ia menilai naik turunnya pasar merupakan hal yang lazim terjadi ketika muncul isu yang memicu kekhawatiran pelaku pasar.
"Itu namanya ya naik turun tergantung pada isu sentimental," kata Airlangga di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (19/10/2026).
Salah satu sentimen yang menjadi perhatian adalah pengumuman MSCI pada Jumat sebelumnya. MSCI membuka potensi perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Stand Alone Market.
Kabar tersebut memicu respons negatif di pasar dan turut menekan pergerakan IHSG. Menurut Airlangga, dampak sentimen itu terlihat dari pelemahan indeks secara kumulatif hingga berakhir di zona merah.
Baca Juga: IHSG Terjun Bebas, Kripto Jadi Pelarian Investor? Celios Ungkap Faktanya
Meski demikian, pemerintah menyoroti keberadaan regulasi baru berupa auto rejection bawah (ARB) yang dinilai dapat membantu membatasi penurunan harga saham. Batas ARB tersebut telah diturunkan dari 15% menjadi 7%.
"Itu biasa kalau ada sentimen negatif kan biasa turun, tetapi dengan ada regulasi baru auto rejection 7% kan relatif terjaga dan penutupan tadi 5.000 lebih sedikit," ujar Airlangga.
Airlangga juga meminta investor tidak terlalu khawatir terhadap kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia. Pasalnya, pengumuman MSCI tersebut masih dijadwalkan pada Juni 2027, sehingga keputusan akhirnya belum ditetapkan.
Menurutnya, masih ada waktu bagi Indonesia untuk merespons perkembangan tersebut. Ia pun menilai peringatan MSCI saat ini belum berarti klasifikasi pasar saham Indonesia pasti turun ke kategori Stand Alone Market.
"Kan masih bulan Juni tahun depan. Biasa dia ngancam-ngancam dikit kan," ungkap Airlangga.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: