Rupiah Menguat Tipis ke Level Rp18.044 per Dolar AS pada Selasa Pagi
Kredit Foto: Antara/Aprillio Akbar
Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) terpantau mengalami rebound pada pembukaan perdagangan hari Selasa (20/10/2026).
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB di pasar spot exchange, nilai tukar rupiah menguat tipis sebesar 2 poin atau 0,01% ke level Rp18.044 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan perdagangan rupiah hari ini bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp18.040 - Rp18.090. Sedangkan perdagangan dalam minggu ini pada rentang Rp17.850 - Rp18.200.
Dia menilai tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan domestik dan global.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah usulan perubahan klasifikasi pasar Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) menjadi Standalone Market, yang masih dalam tahap pengkajian dan belum dipastikan akan diterapkan.
Menurut Ibrahim, wacana tersebut turut memicu kekhawatiran investor terhadap prospek pasar modal Indonesia. Di saat yang sama, lonjakan harga minyak dunia yang menembus US$110 per barel menambah tekanan dan mendorong investor cenderung menghindari aset berisiko.
Dari sisi domestik, upaya otoritas bursa memperketat penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang diduga melakukan pelanggaran dinilai dapat meningkatkan volatilitas pasar dalam jangka pendek. Meski demikian, langkah tersebut berpotensi memperkuat kredibilitas dan kepercayaan investor dalam jangka panjang apabila dilaksanakan secara konsisten dan transparan.
Bursa juga mengumumkan penurunan batas auto-rejection menjadi 7% dari sebelumnya 15%, yang disebut berlaku mulai Senin hingga akhir tahun. Kebijakan tersebut hadir di tengah upaya regulator memperkuat pengawasan pasar, termasuk setelah pengenaan denda administratif dengan total mencapai Rp2,1 triliun terhadap pihak-pihak terkait perdagangan saham dan penawaran umum perdana (IPO) tiga perusahaan besar.
Baca Juga: Rupiah Sentuh Rp18.000, BI Sebut Ekspektasi Suku Bunga Tinggi Global Jadi Pemicu
Baca Juga: Rupiah Dekati Rp18.100 per Dolar AS, Pasar Menanti Arah Suku Bunga BI
"Ruang gerak Bank Indonesia (BI) juga jadi perhatian. Intervensi di pasar NDF dan Domestic NDF, serta instrumen lainnya diupayakan untuk meredam volatilitas," jelas dia kepada wartawan.
Namun efektivitas intervensi itu, menurut Ibrahim, akan sangat bergantung pada seberapa besar tekanan yang dihadapi dan seberapa cepat kepercayaan pulih.
Dalam kondisi seperti ini, kenaikan suku bunga acuan berpotensi jadi pilihan BI untuk menjaga daya tarik aset rupiah. Bahkan BI diperkirakan akan mengerek suku bunga acuan pada pertemuan Oktober ke 6%.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: