Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Tekanan Rupiah Meningkat, Ekonom BCA Sebut Bank Indonesia Berpeluang Naikkan BI-Rate

Tekanan Rupiah Meningkat, Ekonom BCA Sebut Bank Indonesia Berpeluang Naikkan BI-Rate Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Chief Economist PT Bank Central Asia (BCA), David Sumual, memproyeksikan Bank Indonesia (BI) akan menaikkan BI-Rate dalam Rapat Dewan Gubernur 20-21 Oktober 2026 seiring ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan tekanan terhadap rupiah.

Jika The Fed menaikkan suku bunga, tekanan terhadap rupiah dapat meningkat dan mempersempit ruang BI untuk mempertahankan kebijakan moneternya saat ini.

David menilai BI berpotensi menaikkan BI-Rate dalam beberapa pertemuan mendatang seiring ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan tekanan terhadap rupiah.

“BI berpotensi meningkatkan BI-rate dalam beberapa pertemuan ke depan, seiring ekspektasi kenaikan suku bunga fed dan tekanan pada Rupiah,” kata David kepada Wartawa Ekonomi, Selasa (20/10/2026).

Meski demikian, keputusan BI untuk menaikkan suku bunga tidak hanya ditentukan oleh pergerakan nilai tukar. Menurut David, laju inflasi tetap menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan oleh bank sentral.

Pelemahan rupiah yang melewati ambang psikologis Rp18.000 per dolar AS dapat menjadi salah satu pertimbangan BI. Namun, peluang kenaikan suku bunga pada November atau Desember tetap bergantung pada besarnya tekanan terhadap nilai tukar dan ekspektasi inflasi ke depan.

Di sisi lain, kenaikan suku bunga berpotensi menahan pertumbuhan kredit dan aktivitas ekonomi. David menyebut, berdasarkan estimasi BI yang ia rujuk, kenaikan BI-Rate sebesar 25 basis poin dapat mengurangi pertumbuhan ekonomi sekitar 0,1%.

Meski terdapat risiko terhadap pertumbuhan ekonomi, tekanan nilai tukar yang berkepanjangan dapat membuat BI perlu mempertimbangkan langkah kebijakan yang lebih luas, termasuk penyesuaian suku bunga, selain intervensi di pasar valuta asing.

Dia menilai intervensi Bank Indonesia (BI) di pasar valuta asing tidak dapat secara permanen membendung pelemahan rupiah. Intervensi lebih berfungsi meredam gejolak nilai tukar, terutama ketika tekanan berasal dari kondisi eksternal.

Baca Juga: Bank Indonesia Berpeluang Naikkan Suku Bunga 25 Bps Jadi 6,00%

Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp17.894 per Dolar AS, Terkatrol Tiga Instrumen Bank Indonesia

Menurut David, tekanan global yang berlangsung persisten dapat membuat intervensi saja tidak cukup untuk menjaga stabilitas rupiah. Dalam kondisi tersebut, BI berpotensi mempertimbangkan kenaikan suku bunga acuan atau BI-Rate.

“Intervensi kurs secara umum tidak memberikan dampak yang permanen terhadap kurs, melainkan digunakan untuk mengurangi gejolak dalam pasar valas,” ujar David.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Aryo Hadi Wibowo
Editor: Dwi Aditya Putra