Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pemerintah Kombinasikan Dry Ice dan OMC untuk Tangani Karhutla

Pemerintah Kombinasikan Dry Ice dan OMC untuk Tangani Karhutla Kredit Foto: Istihanah
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pemerintah mengombinasikan penggunaan dry ice dan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan. Kedua metode tersebut memiliki fungsi berbeda dalam upaya mengurangi dampak kabut asap dan mendorong turunnya hujan.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menjelaskan, penggunaan dry ice menjadi salah satu pendekatan yang kini diterapkan untuk membantu mengatasi kendala kabut asap. Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan masuknya sinar matahari dan mendukung terbentuknya benih awan hujan, sebelum dilanjutkan dengan penyemaian awan menggunakan natrium klorida (NaCl) melalui OMC.

“Sekarang kita coba pakai dry ice untuk memecah asap sehingga matahari bisa sedikit masuk sebagai pengungkit munculnya benih awan hujan, baru dihantam pakai OMC NaCl. Alhamdulillah, di beberapa kabupaten dilaporkan mulai terjadi turun hujan,” kata Prasetyo melalui pesan singkat kepada media, Selasa (20/10/2026).

Dengan demikian, dry ice dan OMC menggunakan NaCl bukanlah metode yang sama. Dalam pendekatan yang dijelaskan Prasetyo, dry ice digunakan untuk membantu mengatasi persoalan kabut asap dan mendukung proses pembentukan awan, sedangkan penyemaian menggunakan NaCl ditujukan untuk mendorong terjadinya hujan.

Berdasarkan pembaruan hingga Selasa pukul 06.00 WIB, OMC di Sumatera Selatan sejak 16 Oktober telah dilakukan sebanyak delapan sorti dengan 1.600 kilogram NaCl dan 4.000 kilogram dry ice. Dukungan dari Posko Lampung pada 15–18 Oktober menambah enam sorti dengan 4.800 kilogram dry ice. Pemerintah melaporkan penurunan konsentrasi PM2.5 dan peningkatan jarak pandang di Sumatera Selatan.

Di Kalimantan Tengah, OMC sejak 26 Agustus telah mencapai 48 sorti dengan 43.800 kilogram NaCl dan menghasilkan volume curah hujan sebesar 67,45 juta meter kubik. Dukungan tambahan dari Kalimantan Selatan dimulai pada 18 Oktober melalui dua sorti dengan masing-masing 800 kilogram dry ice dan NaCl untuk mengantisipasi kendala jarak pandang. Hujan dilaporkan terjadi di sejumlah kabupaten, termasuk Kotawaringin Timur, Kapuas, dan Barito Timur.

Baca Juga: Kabut Asap Bikin Sesak, Singapura Ancam Hantam Pendanaan Hingga Insentif Perusahaan Pemicu Karhutla

Sementara itu, OMC di Kalimantan Selatan sejak 10 Oktober telah mencapai 23 sorti dengan 23.000 kilogram NaCl. Operasi tersebut dilaporkan menghasilkan volume curah hujan sebesar 222,67 juta meter kubik.

Adapun di Kalimantan Barat, OMC sejak 22 Agustus telah dilaksanakan sebanyak 107 sorti dengan 98.800 kilogram NaCl. Volume curah hujan yang dihasilkan dilaporkan mencapai 471,2 juta meter kubik. Hujan juga tercatat di sejumlah wilayah pada 19 Oktober, antara lain Sanggau, Kubu Raya, Sambas, Landak, Kapuas Hulu, Ketapang, dan Kota Singkawang.

Prasetyo menegaskan, penanganan karhutla tidak hanya mengandalkan teknologi modifikasi cuaca. Pemerintah juga mengerahkan personel darat dan relawan, memanfaatkan armada udara, melakukan penegakan hukum hingga pencabutan izin, serta mengintensifkan edukasi masyarakat.

Menurutnya, karakteristik lahan gambut yang berbeda dengan tanah mineral turut menjadi tantangan dalam pemadaman. Pemerintah pun terus mengupayakan penanganan agar kebakaran segera berakhir dan masyarakat tidak lagi terdampak kabut asap.

“Kita ini penginnya ya cepat selesai itu karhutla. Siang malam selain ikhtiar ya berdoa, mohon bisa segera turun hujan alami,” kata Prasetyo.

Catatan redaksi: Fungsi dry ice di atas ditulis sesuai penjelasan Prasetyo. Secara teknis, es kering bukan sekadar pemecah asap; efektivitasnya dalam memengaruhi pembentukan awan bergantung pada kondisi atmosfer dan mekanisme penyemaian yang digunakan. Karena itu, sebaiknya jangan menyatakan bahwa dry ice pasti memecah asap atau otomatis membuat hujan turun.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Istihanah
Editor: Istihanah

Tag Terkait: