Supaya Tak Jadi Beban Berjalan, Pengamat Sebut Publik Ingin Prabowo Tendang Menteri dari PSI
Kredit Foto: BPMI
Keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk mempertahankan komposisi menteri-menteri dari partai koalisi kini mulai diuji oleh krisis di lapangan. Sorotan paling tajam saat ini mengarah pada Menteri Kehutanan dan Elite Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Raja Juli Antoni.
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno mengatakan bahwa buruknya penanganan bencana karhutla membuat figur tersebut dinilai hanya menjadi beban politik dan manajerial bagi Kabinet Merah Putih.
Baca Juga: Gegara Jokowi Sendiri, Roy Suryo Yakin Akan Lolos dari Penjara
Adi memaparkan bahwa kegagalan memadamkan karhutla selama empat bulan adalah bukti empiris dari inkompetensi kementerian teknis. Jika dibiarkan berlarut-larut, rekam jejak buruk ini akan merusak reputasi dari Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
"Yang saya kira supaya tidak menjadi beban di pemerintahan Prabowo-Gibran. Makanya diganti itu penting. Itu yang sebenarnya ditunggu oleh publik," kata Adi Prayitno dikutip Rabu (21/10/2026).
Adi juga memberikan pandangan kritis terkait tradisi birokrasi yang kerap menunggu momen satu atau dua tahun untuk melakukan perombakan kabinet (reshuffle).
Menurutnya, dalam kondisi krisis bencana yang membahayakan jutaan rakyat, hak prerogatif presiden untuk mengganti menteri yang gagal (underperform) tidak perlu menunggu tenggat waktu politik tertentu.
"Oleh karena itu, karena ini sudah bergulir terus, maka tak ada cerita kita harus nunggu dua tahun pemerintahan ini. Kan terlihat menterinya tidak perform, kinerja menterinya tidak benar, memang keadaannya sudah diganti dengan yang lain," tegas Adi.
Beban krisis yang gagal ditangani oleh sosok itu di kabinet tersebut pada akhirnya harus dipikul langsung oleh Presiden Prabowo. Akibat kelumpuhan respons dari kementerian terkait, presiden terpaksa menginstruksikan operasi darurat berskala militer pada awal pekan ini.
Menko Polkam Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman langsung menggerakkan armada udara militer secara masif. Operasi pemancingan hujan buatan yang sebelumnya terbatas, kini diperkuat dengan kehadiran armada pesawat angkut tempur C-130 Hercules.
Pesawat berkapasitas raksasa tersebut dikerahkan khusus untuk mengangkut dan menebarkan berton-ton dry ice (es kering) ke awan potensial guna mempercepat presipitasi di atas titik-titik api utama.
Baca Juga: PDIP Bongkar Lima Kegagalan Fatal Prabowo-Gibran Selama 2 Tahun Menjabat
"Bapak Presiden menyampaikan bahwa penanganan karhutla harus betul-betul masif. Nah, ini betul-betul harus secara masif, terukur, dan dilaksanakan dengan segera karena memang ini sudah sangat membantu," tegas Dudung.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: