- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
IHSG Babak Belur, Rp100 Triliun Dana Asing Diprediksi Segera Cabut dari Pasar Saham RI
Kredit Foto: Uswah Hasanah
Pasar modal Indonesia menghadapi ancaman arus keluar dana asing dalam jumlah besar menyusul peluang penurunan status bursa Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI), dari kategori emerging market menjadi standalone market.
Mengutip Reuters, Selasa (20/10/2026), kekhawatiran tersebut telah memicu aksi jual investor asing. Pada Jumat (16/10), IHSG anjlok 11,6% setelah MSCI mengungkapkan kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia.
Tekanan berlanjut pada Senin (19/10), ketika IHSG kembali ditutup melemah 3,6%. Penurunan dalam dua hari perdagangan itu disebut lebih tajam dibandingkan penurunan selama krisis keuangan Asia 1998. IHSG juga sempat menyentuh level terendah dalam enam tahun.
Goldman Sachs memperkirakan perubahan status Indonesia dalam indeks MSCI berpotensi memicu arus keluar dana pasif hingga US$5,6 miliar atau sekitar Rp100,8 triliun, dengan asumsi kurs Rp18.000 per dolar AS.
Selain dana pasif, investasi aktif yang menggunakan indeks MSCI sebagai tolok ukur juga memiliki eksposur besar terhadap saham Indonesia. Nilai kepemilikannya diperkirakan melampaui US$8 miliar atau sekitar Rp144 triliun, meski keputusan untuk menjual saham tetap bergantung pada strategi masing-masing pengelola dana.
Sejumlah lembaga keuangan lain turut memperkirakan potensi keluarnya modal asing dalam jumlah besar. Dalam laporan Reuters lainnya, estimasi arus keluar dana pasif berkisar US$3 miliar hingga US$6 miliar atau setara Rp54 triliun hingga Rp108 triliun.
JPMorgan memperkirakan arus keluar dana pasif mencapai US$4,8 miliar atau sekitar Rp86,4 triliun. Sementara itu, UBS memperingatkan investor aktif berpotensi menarik tambahan dana hingga US$15 miliar atau sekitar Rp270 triliun.
Baca Juga: IHSG Berpotensi Uji 5.300–5.400, BI Rate Jadi Penentu Arah
Analis obligasi pemerintah S&P Global Ratings, Rain Lin, menilai usulan perubahan klasifikasi MSCI dapat mendorong tambahan arus modal keluar. Namun, ia menyoroti risiko yang lebih luas, yakni merosotnya kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.
"Yang lebih mengkhawatirkan adalah potensi kerusakan terhadap kepercayaan investor dan risiko melemahnya sentimen secara lebih luas di pasar obligasi pemerintah dan investasi asing langsung," jelasnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy