Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Ganjar Desak Prabowo Tetapkan Karhutla sebagai Bencana Nasional, Ini Alasannya

Ganjar Desak Prabowo Tetapkan Karhutla sebagai Bencana Nasional, Ini Alasannya Kredit Foto: Ist
Warta Ekonomi, Jakarta -

Mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mendesak Presiden Prabowo Subianto menetapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia sebagai bencana nasional. Ia menilai skala kebakaran dan dampak kabut asap yang melintasi batas negara sudah semakin mengkhawatirkan.

‎"Melihat luasnya skala karhutla dan dampak yang sudah mencapai lintas negara, saya meminta kepada pemerintah untuk menyatakan kasus ini sebagai bencana nasional," kata Ganjar melalui unggahan Instagram pribadinya, Selasa (20/10/2026).

‎Menurut politikus PDIP tersebut, penetapan status bencana nasional diperlukan agar pemerintah pusat dapat mengerahkan sumber daya secara lebih besar dan terkoordinasi. Upaya itu mencakup pengerahan personel terlatih serta pemanfaatan armada transportasi darat, laut, dan udara untuk mendukung pemadaman.

‎Ganjar juga menyoroti dampak kesehatan yang ditimbulkan karhutla. Berdasarkan data yang disampaikannya, sekitar 17,4 juta jiwa terdampak langsung, sementara 174.694 warga dilaporkan mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), termasuk 40.363 anak balita.

‎Tak hanya mengancam kesehatan, karhutla juga disebut menimbulkan kerugian ekonomi lebih dari Rp123 triliun dan mengganggu operasional 1.813 jadwal penerbangan.

‎Ganjar turut menyoroti besarnya emisi yang dilepaskan akibat kebakaran. Hingga Oktober 2026, karhutla disebut telah melepaskan emisi karbon dioksida (CO2) sebesar 140,5 juta ton, angka tertinggi sejak 2019.

‎"Kita semakin prihatin mengetahui hingga kondisi bulan Oktober kurang lebih 2026 ini, karhutla tidak hanya menghilangkan pohon yang menjadi rumah satwa dilindungi, tetapi juga telah melepaskan emisi CO2 sebesar 140,5 juta ton dan ini tertinggi sejak 2019 lalu," ujar Ganjar.

Baca Juga: Karhutla Gunung Arjuno-Welirang Meluas, Titik Api Berjarak 2 Kilometer dari Permukiman

‎Meski mengapresiasi upaya BNPB, Kementerian Kehutanan, Kementerian Kesehatan, TNI, Polri, pemerintah daerah, dan relawan, Ganjar menilai penanganan karhutla masih cenderung reaktif. Ia menegaskan pemadaman saja tidak cukup jika penyebab utama kebakaran tidak ditangani secara konsisten.

‎Ganjar pun menekankan pentingnya pembenahan dari hulu agar kebakaran tidak terus berulang. Menurutnya, upaya penanggulangan harus disertai penanganan akar persoalan, bukan hanya berfokus pada pemadaman ketika api sudah meluas.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy