Women’s World Banking: Kesehatan Finansial Jadi Kunci Utama Pemberdayaan UMKM Perempuan
Kredit Foto: Istimewa
Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah yang mencapai 8,47% pada 2025 membuka peluang bagi UMKM lokal untuk memperluas usaha dan menjangkau pasar yang lebih luas. Momentum ini perlu dioptimalkan melalui kolaborasi yang menghubungkan penguatan kapasitas usaha, akses pasar, formalisasi usaha, dan kesehatan finansial, khususnya bagi perempuan pengusaha UMKM agar dapat tumbuh lebih berkelanjutan.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Amartha Financial sebagai inisiator Koalisi Indonesia untuk Kesehatan Keuangan atau Indonesian Coalition for Financial Health (ICFH) menggandeng Women’s World Banking dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) untuk menggelar program nasional Tumbuhkan Peluang di Palu.
Senior Policy Strategist Southeast Asia Women’s World Banking, Desi Vicianna, menyampaikan kesehatan finansial merupakan bagian penting dari pemberdayaan ekonomi perempuan.
"Kegiatan hari ini akan dilanjutkan dengan pendampingan intensif oleh fasilitator lokal untuk membantu pengusaha mikro perempuan memperkuat praktik pengelolaan keuangan dan pengembangan usaha sehingga kemajuan usaha dapat berjalan beriringan dengan kesehatan finansial yang lebih kuat," jelas dia, Rabu (21/10/2026).
Lewat lokakarya Tumbuhkan Peluang, ICFH bersama para mitra berharap koneksi yang terbentuk dapat berkembang menjadi kemitraan usaha yang berkelanjutan. Dengan menghubungkan kapasitas usaha, akses pasar, dan kesehatan finansial, semakin banyak perempuan UMKM diharapkan mampu memperluas peluang bisnis dan memperkuat ketahanan ekonomi.
Kegiatan ini adalah bagian dari rangkaian lokakarya untuk mempertemukan sekitar 200 UMKM dengan mitra industri dan pembeli besar (offtaker) sekaligus mendorong formalisasi usaha melalui edukasi dan fasilitasi registrasi Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi Halal, PIRT dan pembukaan rekening bank.
Formalisasi usaha menjadi langkah penting bagi UMKM perempuan untuk meningkatkan kesiapan bisnis dan menjangkau pasar yang lebih luas. Kepemilikan NIB menjadi pintu masuk untuk mengurus perizinan lanjutan, mengakses program pemerintah dan layanan keuangan formal, serta memenuhi persyaratan kerja sama dengan calon pembeli. Namun, proses formalisasi masih menjadi tantangan bagi sebagian pengusaha mikro perempuan akibat keterbatasan literasi digital, pemahaman mengenai persyaratan administrasi, serta waktu yang terbagi antara mengelola usaha dan tanggung jawab rumah tangga.
Dengan lokakarya Tumbuhkan Peluang, peserta memperoleh pendampingan langsung bersama Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) dalam pengurusan NIB, sehingga legalitas usaha dapat menjadi fondasi untuk mengembangkan bisnis dan memanfaatkan peluang.
“Penguatan UMKM perempuan tidak cukup hanya dengan membuka akses pembiayaan. Mereka membutuhkan ekosistem yang membantu usaha menjadi lebih formal, mampu mengakses pasar lebih luas, sekaligus memiliki ketahanan dan kesehatan finansial. Melalui kolaborasi lintas sektor seperti ini, kami ingin memastikan lebih banyak perempuan pelaku UMKM di daerah tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga naik kelas dan mengubah potensi usahanya menjadi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di level akar rumput,” Head of Secretariat ICFH dan Chairman Amartha.org, Aria Widyanto.
Melalui lokakarya ini, UMKM diperkenalkan dan berdiskusi langsung dengan calon mitra pasar lokal seperti Toko Oleh-Oleh Sri Rejeki, Toko Oleh–oleh Sal-Han, G.I (Gampiri Interaksi Lestari), dan Nina Agro Jaya. Pertemuan ini turut memberi kesempatan bagi UMKM untuk memahami standar produk, menjajaki peluang kurasi, dan memperoleh umpan balik dari calon pembeli.
Peserta lokakarya didominasi UMKM di sektor pertanian dan pangan olahan, yang memiliki potensi untuk dikembangkan seiring besarnya kontribusi kedua sektor terhadap ekonomi Sulawesi Tengah. Pada 2025, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mencatat nilai tambah Rp67,96 triliun, sementara industri makanan dan minuman mencapai Rp7,24 triliun. Potensi ini membuka ruang bagi UMKM untuk memperluas pasar melalui penguatan kualitas produk dan pemahaman terhadap kebutuhan pembeli.
Asisten Deputi PUG BIdang Perekonomian, Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan dan Pemerintah Daerah Wilayah, Eni Widiyanti, menyampaikan pemberdayaan ekonomi perempuan tidak cukup hanya dengan meningkatkan keterampilan berusaha, tetapi juga harus memastikan perempuan memiliki akses yang setara terhadap pembiayaan, legalitas usaha, teknologi, dan pasar.
Baca Juga: IHSG Mulai Bangkit, tapi Pemulihan Pasar Saham Belum Aman!
Baca Juga: Gelar Forum Kemitraan Global, BRI Buka Akses Investor Internasional ke UMKM
Menurutnya masih banyak perempuan pelaku usaha mikro yang menghadapi keterbatasan akses informasi, jaringan pemasaran, serta tanggung jawab pengasuhan dan pekerjaan domestik. Melalui kegiatan Tumbuhkan Peluang, ia ingin mendorong agar perempuan pelaku UMKM tidak hanya mampu mempertahankan usahanya, tetapi juga memiliki kesempatan untuk naik kelas, memperluas pasar, dan meningkatkan kemandirian ekonominya.
"Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, dan mitra pembangunan menjadi kunci untuk membangun ekosistem kewirausahaan yang lebih inklusif dan berkelanjutan," jelas dia.
Selain akses pasar, kesehatan finansial (financial health) menjadi landasan penting bagi keberlanjutan usaha. Bagi UMKM, hal ini mencakup kemampuan mengelola arus kas, memenuhi kebutuhan bisnis, menghadapi risiko keuangan, dan merencanakan pertumbuhan usaha. Dengan pengelolaan keuangan yang lebih baik, pertumbuhan bisnis diharapkan dapat turut memperkuat kesejahteraan perempuan dan keluarganya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: