Prabowo dan Jokowi Punya Imajinasi Yang Sangat Berbeda Soal Indonesia, Kata Pengamat
Kredit Foto: Antara/Bayu Pratama S
Ekspektasi publik mengenai transisi pemerintahan yang identik dan berkesinambungan tanpa celah mulai terbantahkan menyusul bedanya visi dari Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden Prabowo Subianto. Pergeseran fokus dan gaya kepemimpinan selama dua tahun terakhir menunjukkan adanya disparitas visi yang cukup tajam antara kedua tokoh bangsa tersebut.
Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya memberikan pandangan analitis yang mengupas akar perbedaan tersebut. Ia menegaskan bahwa gaya kepemimpinan presiden yang terkesan mengagetkan sebagian pihak sebenarnya berakar dari perbedaan cara pandang atau "imajinasi" tentang bagaimana negara harus dikelola dan dipertahankan di tengah kompetisi global.
Baca Juga: Diungkap Pakar, Buku Ini Ternyata Paling Sempurna Menggambarkan Isi Kepala Prabowo
"Pada dasarnya dua orang ini, saya selalu mengatakan, dua makhluk yang punya imajinasi berbeda tentang Indonesia," ujar Yunarto Wijaya dikutip Kamis (22/10/2026).
Imajinasi kebangsaan yang berbeda ini menciptakan gegar budaya (culture shock) dalam lanskap politik domestik, terutama di kalangan para pemilih loyalis.
Yunarto membeberkan bahwa ketika pilpres sebelumnya berlangsung, narasi keberlanjutan (continuity) yang dikampanyekan oleh kubu sang presiden telah ditafsirkan secara harfiah oleh basis massa Jokowi. Para pemilih tersebut memproyeksikan bahwa dia akan menjadi sekadar "versi lain" dari Jokowi.
"Tapi yang menurut saya berubah adalah terutama ya segmen pemilih mantan presiden itu yang merasa continuity akan terbangun seperti apa yang dijalankan oleh beliau ketika terpilihnya Prabowo," ungkap Yunarto mengurai persoalan psikologis pemilih tersebut.
Ekspektasi yang terlanjur melambung tinggi inilah yang kini berbenturan dengan realitas. Masyarakat yang semula mengidamkan sebuah pemerintahan hybrid atau perpaduan "Prabowo-Jokowi" kini harus menerima fakta bahwa presiden saat ini memiliki prioritas yang sama sekali berbeda, seperti perombakan fokus dari infrastruktur sipil ke arah ketahanan pangan, energi, dan pertahanan militer.
"Karena imajinasinya adalah pemerintahan Prabowo-Jokowi," ungkap Yunarto.
Akibatnya, kelompok yang paling merasakan guncangan atau kebingungan atas arah kebijakan negara saat ini bukanlah barisan pihak oposisi, melainkan barisan pendukung petahana itu sendiri. Mereka dihadapkan pada sosok pemimpin yang mandiri dengan agenda ideologisnya sendiri, yang tidak bisa didikte oleh kerangka kerja masa lalu.
Baca Juga: SMRC: Sekalipun Dedi Mulyadi Batal Nyapres, Posisi Elektoral Prabowo Subianto Tetaplah Lemah
"Itu yang menyebabkan orang kaget. Orang yang paling kaget terutama dengan kebijakan dua tahun ini menurut saya adalah pecinta Jokowi yang tadinya merasa Prabowo akan seperti Jokowi atau akan membuat keberlanjutan seperti yang dimaui Jokowi atau seperti yang dimaui oleh Jokowi. Dan tidak terjadi sekarang," jelas Yunarto.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: