Dari Patung hingga Lukisan, WARI’ Art/Interior 2026 Ajak Publik Menikmati Seni di Jakarta Design Center
Kredit Foto: Istimewa
Karya seni tak harus dinikmati di galeri berdinding putih. Melalui WARI’ Art/Interior 2026, pengunjung diajak melihat bagaimana lukisan, patung, dan objek artistik berinteraksi dengan furnitur, pencahayaan, serta elemen desain interior dalam ruang yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pameran ini berlangsung pada 20-24 Oktober 2026 di showroom Javier, lantai 3 Jakarta Design Center (JDC), Jakarta Pusat. WARI’ mempertemukan seni rupa, desain interior, dan craftsmanship melalui penataan karya dalam lingkungan interior yang dirancang secara menyeluruh.
Pameran tersebut digagas Martin Lim melalui Javier dengan melibatkan BK Studio dan Galeri ZEN1. Karya seniman modern dan kontemporer Indonesia ditampilkan dengan pendekatan yang mempertimbangkan hubungan antara objek seni dan ruang di sekitarnya.
Budi Kurniawan dari BK Studio, yang juga menjadi kurator pameran, mengatakan nama WARI’ terinspirasi dari istilah dalam tatanan adat Bugis yang berkaitan dengan pengaturan, klasifikasi, kedudukan, dan penempatan.
“Wari' itu satu kata term dari Bugis Kuno, bukan titel pameran tapi jadi movement. Pameran seni ini awal yang baik untuk memulai gerakan, sebuah kepantasan nilai yang dijunjung tinggi,” katanya saat preview di Jakarta Design Center, Rabu (22/10/2026).

Konsep tersebut diterapkan melalui penempatan karya yang memperhatikan material, cahaya, proporsi, furnitur, dan alur ruang. Dengan pendekatan ini, pengunjung dapat melihat bagaimana karakter sebuah karya berubah ketika ditempatkan dalam lingkungan yang berbeda.
WARI’ menghadirkan lima seniman dengan pendekatan artistik yang beragam. Andry Boy Kurniawan, misalnya, menampilkan patung resin tiga dimensi melalui seri The Peace Keepers. Karya ini mengeksplorasi figur shio Tionghoa dan zodiak, dengan beberapa figur yang dapat bergerak melalui aplikasi.
Seniman Apin menghadirkan karya dengan sentuhan humor dan komentar sosial melalui pembacaan ulang terhadap objek keseharian. Sementara itu, Arief Witjaksana mempertemukan seni kontemporer, desain karakter, dan art toys melalui semesta kreatif Malaccan Tales.
Di area lounge, pengunjung dapat melihat karya Indra Evendi dan Alex Bayusaputro melalui seri Batloon. Karya mereka mencakup sejumlah karakter, seperti Gorilla, Batmon, Pieta, dan T-Rex, yang sebelumnya pernah ditampilkan di Art Jakarta Gardens.
Keduanya juga mengeksplorasi huruf China “fu” yang berkaitan dengan makna keberuntungan.
“Setiap karya saya dan Indra, penuh pesan tersembunyi. Kalau kamu perhatikan bagus untuk keberuntungan tapi kalau dalam bahasa China, fu itu juga kelelawar. Batman juga punya simbol, itu pesan tersembunyi dan ada di korelasinya. Karya ini lebih fun-lah dan cocok buat interior desain,” ungkap Alex saat press tour.
Selain karya seniman kontemporer, pameran ini menghadirkan koleksi khusus dari tiga nama dalam seni rupa Indonesia, yakni Hendra Gunawan, Made Wianta, dan Ugo Untoro.
Kehadiran karya dari berbagai generasi tersebut memberikan gambaran mengenai beragam pendekatan dalam mengolah bentuk, material, cerita, dan gagasan.
Salah satu gagasan utama WARI’ adalah memperluas cara masyarakat menikmati seni. Alih-alih menempatkan karya sebagai objek yang berdiri sendiri, pameran ini menghubungkannya dengan elemen interior, mulai dari furnitur, cabinetry, material, dekorasi, hingga pencahayaan.
Martin Lim melalui Javier mengembangkan interior dan elemen artistik. BK Studio menangani kurasi spasial, termasuk penempatan karya, komposisi display, dan alur pengunjung.
Galeri ZEN1 bertanggung jawab atas kurasi seni dan menghadirkan karya para seniman. Sementara itu, pencahayaan dirancang Jimmy Marianto dari JRP Lighting dan lanskap ditangani Sing Mahadi dari Grow Little Garden.
Kolaborasi tersebut memungkinkan pengunjung melihat seni dalam konteks ruang yang menyerupai lingkungan rumah atau ruang komersial. Pendekatan ini juga membuka kesempatan bagi masyarakat yang lebih akrab dengan dunia desain dan arsitektur untuk mengenal karya seni.
Martin Lim mengatakan WARI’ berangkat dari keinginan mempertemukan karya seniman Indonesia dengan audiens yang lebih luas.
“Kami percaya banyak seniman Indonesia memiliki kreativitas dan kualitas karya yang luar biasa. Melalui WARI’, kami ingin membuka ruang baru agar karya mereka dapat diapresiasi oleh audiens yang lebih luas, sekaligus membangun hubungan yang lebih dekat antara seni dan kehidupan seharihari,” ujar Martin.
Menurut Martin, proses penciptaan karya seni melibatkan berbagai tahapan, mulai dari pemilihan material dan pencarian bentuk hingga eksperimen serta penyempurnaan detail. Karena itu, ruang presentasi turut berperan dalam membantu pengunjung memahami karya.
Budi Kurniawan menambahkan, setiap karya dan elemen interior perlu memiliki posisi yang sesuai agar dapat membentuk pengalaman ruang yang utuh.
“WARI’ berbicara tentang kepantasan dalam penempatan. Setiap karya, material, dan elemen ruang perlu menemukan tempat serta perannya agar dapat saling berdialog. Kami memperhatikan dinding, cahaya, proporsi, dan alur ruang untuk membangun pengalaman yang utuh,” ujar Budi.
Ia menegaskan bahwa WARI’ mengambil inspirasi konseptual dari filosofi penataan dalam tradisi Bugis, bukan bermaksud menceritakan kembali epos atau tradisi tertentu.
WARI’ tidak hanya ditujukan bagi kolektor dan pencinta seni, tetapi juga desainer interior, pemilik rumah, komunitas kreatif, dan masyarakat umum. Pengunjung dapat menikmati pameran secara gratis.
Selain melihat karya, pengunjung dapat mengikuti sesi percakapan bersama seniman. Salah satunya adalah talkshow interaktif bersama Arief Witjaksana yang membahas seni, karakter, mainan, dan game. Indra Evendi juga dijadwalkan hadir dalam sesi percakapan tersendiri.
Pendiri Galeri ZEN1, Nicolaus F. Kuswanto, mengatakan WARI’ menawarkan pengalaman yang berbeda sekaligus melengkapi kunjungan ke galeri konvensional.
“Ruang galeri memungkinkan karya dilihat secara mendalam, sementara WARI’ menawarkan pengalaman yang berbeda dan saling melengkapi: pengunjung dapat membayangkan bagaimana seni hidup bersama mereka dalam ruang sehari-hari. Pertemuan ini diharapkan memperluas apresiasi terhadap karya dan para senimannya,” ujar Nicolaus.
Direktur Utama Jakarta Design Center, Ir. Nurul Syahri, mengatakan JDC menjadi wadah bagi pelaku industri kreatif untuk mengeksplorasi gagasan artistik dan perspektif desain melalui pengalaman berbeda.
“Sebagai design hub yang terus berkembang, JDC berkomitmen untuk menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan industri kreatif melalui ruang, koneksi, dan kesempatan berkolaborasi,” pungkasnya.
WARI’ Art/Interior 2026 berlangsung hingga 24 Oktober 2026 di showroom Javier, lantai 3 Jakarta Design Center, Jakarta Pusat. Pameran ini menawarkan perspektif bahwa karya seni dapat diapresiasi tidak hanya di galeri, tetapi juga melalui interaksinya dengan ruang yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: