Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Kapal Induk AS Dikabarkan Bergerak ke Timur Tengah, Iran Nyatakan Kini Lebih Siap

Kapal Induk AS Dikabarkan Bergerak ke Timur Tengah, Iran Nyatakan Kini Lebih Siap Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Warta Ekonomi, Jakarta -

Upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel masih menghadapi jalan terjal. Sejumlah pejabat asing terus mengunjungi Teheran, tetapi ancaman serangan militer baru dan perbedaan tuntutan terkait program nuklir belum menemukan titik temu.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengunjungi Iran pada Senin setelah menghadiri pertemuan dengan negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk. Sebelumnya, Panglima Angkatan Darat Pakistan Asim Munir juga datang ke Teheran untuk membahas perkembangan konflik.

Rangkaian kunjungan tersebut menunjukkan bahwa komunikasi diplomatik masih berlangsung. Namun, aktivitas itu belum meredakan kekhawatiran mengenai kemungkinan eskalasi militer.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai negaranya masih menghadapi ancaman serangan lanjutan dan perluasan sanksi ekonomi. Karena itu, pemerintah Iran belum menganggap situasi saat ini sebagai kondisi damai.

Di tengah upaya diplomasi, laporan media Amerika Serikat yang mengutip sumber anonim menyebut Pentagon mengirim kelompok serang kapal induk USS Theodore Roosevelt dan satuan Marinir ke Timur Tengah.

Jika laporan tersebut terkonfirmasi, pengerahan itu dapat memperluas pilihan militer pemerintahan Presiden Donald Trump.

Trump dan sejumlah pejabatnya juga dilaporkan pernah membahas opsi serangan terhadap fasilitas nuklir dan energi Iran. Kemungkinan operasi militer terhadap pulau-pulau di selatan Iran, dekat Selat Hormuz, turut disebut dalam laporan tersebut.

Meski demikian, laporan mengenai pengerahan pasukan dan pembahasan opsi serangan tidak berarti keputusan untuk melancarkan operasi militer baru telah ditetapkan.

Iran sendiri memberikan peringatan keras terhadap kemungkinan serangan lanjutan. Press TV, media pemerintah Iran, mengutip seorang pejabat keamanan anonim yang menyatakan Teheran siap melanjutkan perlawanan tanpa pembatasan apabila AS dan Israel kembali menyerang atau membunuh pejabat Iran.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa pemerintah Iran masih mempertahankan sikap keras di tengah tekanan militer dan ekonomi.

Perselisihan kedua pihak juga berkaitan dengan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Jalur ini memiliki peran penting dalam perdagangan energi dunia karena dilalui kapal pengangkut minyak dan gas.

Iran menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz harus menjadi bagian dari kesepakatan yang lebih luas dengan Washington.

Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyampaikan kepada Munir bahwa Teheran tidak memiliki tawaran baru untuk diberikan kepada AS. Pemerintah Iran meminta Washington terlebih dahulu memenuhi persyaratan yang telah diajukan.

Persyaratan tersebut mencakup pembahasan kesepakatan yang lebih luas mengenai program nuklir, pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan di selatan Iran, pengecualian sanksi minyak, serta pencairan aset Iran.

Teheran juga menginginkan penghentian operasi militer di Lebanon dan wilayah lain yang terdampak konflik regional. Langkah-langkah itu dinilai diperlukan untuk membangun kepercayaan sebelum perundingan nuklir dilanjutkan.

Persediaan uranium yang telah diperkaya menjadi salah satu hambatan utama dalam negosiasi. Iran menolak mengirim material tersebut ke luar negeri, tetapi masih membuka peluang untuk membahas masa depannya, termasuk pengayaan uranium tingkat tinggi dan akses pengawas internasional.

Ellie Geranmayeh, peneliti kebijakan senior sekaligus wakil kepala program Timur Tengah dan Afrika Utara di European Council on Foreign Relations, menilai Iran tidak akan bersedia melepaskan uranium yang diperkaya tanpa jaminan pencabutan sanksi dari AS.

Menurut Geranmayeh, pembahasan mengenai uranium masih mungkin dilakukan. Namun, proses itu perlu disertai mekanisme yang jelas untuk melaksanakan pencabutan sanksi.

Ia menilai kedua pihak masih jauh dari tahap negosiasi yang berpotensi menghasilkan kesepakatan menyeluruh.

Perbedaan tuntutan juga terlihat pada tujuan akhir perundingan. Washington menginginkan pembatasan program nuklir Iran, sedangkan Teheran menuntut jaminan keamanan dan pelonggaran tekanan ekonomi sebagai bagian dari kesepakatan.

Selain perkembangan di Iran dan Selat Hormuz, situasi di Yaman serta jalur pelayaran Laut Merah turut menjadi perhatian. Hubungan Iran dengan kelompok Houthi di Yaman dinilai relevan terhadap keamanan pelayaran di sekitar Selat Bab al-Mandeb.

Baca Juga: Tanggapan Bro Ron Soal Kader PSI Usul Jokowi Gantikan Kaesang Jadi Ketua Umum

Geranmayeh memperingatkan bahwa kemungkinan serangan baru oleh AS dan Israel tetap perlu diperhitungkan. Dinamika politik dan pemilihan umum di kedua negara juga menjadi faktor yang diperhatikan dalam menilai perkembangan konflik.

Meski demikian, belum ada kepastian mengenai waktu, sasaran, maupun keputusan akhir terkait kemungkinan operasi militer baru.

Untuk saat ini, jalan menuju kesepakatan masih bergantung pada kemampuan kedua pihak menyelesaikan perbedaan mengenai program nuklir, pencabutan sanksi, jaminan keamanan, serta kebebasan pelayaran di Selat Hormuz. Selama persoalan tersebut belum menemukan titik temu, risiko berlanjutnya ketegangan di Timur Tengah masih membayangi upaya diplomasi.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat