Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Eks Wamenlu Sentil Tuduhan Singapura Sabotase Bursa RI: Tidak Masuk Akal Karena...

Eks Wamenlu Sentil Tuduhan Singapura Sabotase Bursa RI: Tidak Masuk Akal Karena... Kredit Foto: Lestari Ningsih
Warta Ekonomi, Jakarta -

Tuduhan Singapura berkonspirasi menjatuhkan pasar modal Indonesia menuai bantahan dari eks Wakil Menteri Luar Negeri era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Dino Patti Djalal. Ia menilai tudingan tersebut tidak masuk akal dan bertolak belakang dengan rekam jejak hubungan diplomatik kedua negara yang selama ini terjalin erat.

Dino menyoroti isu dugaan sabotase dan manipulasi lembaga penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang disebut-sebut bertujuan memicu aksi jual murah saham Indonesia.

Menurutnya, tuduhan tersebut sangat jauh dari realitas hubungan Indonesia dan Singapura, termasuk dalam perhitungan politik kedua negara.

Baca Juga: Konten Kreator Ngaku Ditawari Rp80 Juta untuk Bungkam soal Karhutla, Nasibnya Kini Terancam

"Hukumnya tabu dan haram bagi elit politik Singapura untuk berkonspirasi mencelakai Indonesia. Sebagaimana juga tabu dan haram bagi Indonesia untuk mencelakai Singapura," ungkap Dino melalui unggahan di akun Instagram, dikutip Jumat (23/10/2026).

Ia menjelaskan, Singapura memiliki rekam jejak kerja sama, kepercayaan, dan niat baik yang telah teruji dalam hubungan dengan Indonesia.

Negara tetangga tersebut, kata Dino, berulang kali hadir membantu Indonesia melewati berbagai masa krusial, mulai dari bencana tsunami Aceh, krisis moneter, pandemi COVID-19, hingga kerja sama investasi berskala besar di kawasan industri Batam-Bintan dan Kendal.

"Tidak masuk akal dan jauh dari realita yang sebenarnya. Mengapa? Karena Singapura merupakan negara tetangga yang memiliki goodwill, trust dan track record kerjasama yang sudah lama teruji oleh Indonesia," ujarnya.

Dino juga menilai stabilitas politik dan ekonomi Indonesia merupakan kepentingan penting bagi Singapura. Sebagai negara yang bertetangga dekat, Singapura berpotensi ikut merasakan dampak besar apabila Indonesia mengalami guncangan politik maupun ekonomi.

Baca Juga: Penasihat Presiden Heran Singapura-Malaysia Kritik Karhutla: Kenapa Tidak dari Dulu?

Karena itu, Dino menekankan bahwa hubungan kedua negara semestinya dibangun di atas kerja sama dan rasa saling percaya, bukan kecurigaan atau dugaan adanya rencana sabotase. 

"Akan sangat kontradiktif kalau kita memperlakukan tetangga terdekat Singapura seperti lawan dan dengan penuh curiga," ucap Dino.

Sebelumnya, Mantan Menteri Perdagangan RI Muhammad Lutfi melontarkan dugaan adanya upaya menekan pasar saham Indonesia melalui lembaga penyedia indeks global MSCI. Lutfi menduga pihak-pihak dari Singapura berada di balik tekanan tersebut. 

Menurutnya, perubahan status Indonesia dari kategori pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market) berpotensi membuat harga saham domestik terkoreksi. 

Eks menteri yang pernah menjabat pada era Presiden SBY dan Joko Widodo itu secara khusus menyebut Temasek dan GIC, dua perusahaan investasi asal Singapura, yang menurutnya memiliki pengaruh besar terhadap MSCI.

Lutfi bahkan mengklaim memperoleh informasi mengenai seorang petinggi GIC bernama Rachel Goh yang disebutnya berupaya menekan MSCI agar menurunkan status pasar modal Indonesia. 

"Saya dapat kabar langsung di dalam, Rachel Goh di GIC yang marah-marah dan menekan MSCI supaya peringkat Indonesia diturunkan," ungkap Lutfi dalam unggahan di akun Instagram. 

Menurut Lutfi, ancaman perubahan klasifikasi tersebut bisa dimanfaatkan investor asing yang sebelumnya telah melepas sebagian besar investasinya di pasar domestik untuk kembali masuk ketika harga aset menjadi lebih rendah.

"Mereka tekan MSCI untuk mengancam turunkan kasta Indonesia ke standalone market. Bikin kepanikan massal supaya indeks saham kita rontok. Lalu mereka borong kembali aset-aset terbaik Indonesia di harga diskon," imbuh Lutfi.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri