Kredit Foto: Annisa Nurfitri
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibayangi potensi aksi ambil untung atau profit taking pada perdagangan Jumat (23/10/2026), seiring memburuknya sentimen pasar global. Kenaikan harga minyak, tekanan pada saham teknologi, serta kekhawatiran terhadap arah suku bunga global menjadi sejumlah faktor yang perlu diwaspadai investor.
Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak dalam rentang 5.200–5.400.
"Investor disarankan mencermati perkembangan pasar global dan mewaspadai aksi ambil untung setelah indeks domestik mencatatkan penguatan dalam beberapa sesi perdagangan terakhir," tulis riset Phintraco Sekuritas.
Sentimen negatif datang dari bursa saham Amerika Serikat. Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Kamis (22/10/2026), dengan tekanan jual pada saham-saham teknologi menjadi salah satu pemberat pasar. Di saat yang sama, investor beralih ke saham defensif dan obligasi pemerintah untuk mengantisipasi meningkatnya ketidakpastian.
Kenaikan harga minyak turut menambah kekhawatiran pasar. Harga minyak mentah Brent menguat sekitar 4% ke level US$113 per barel pada Kamis (22/10/2026). Lonjakan harga energi berpotensi kembali mendorong inflasi sehingga mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter dan meningkatkan risiko kenaikan suku bunga global.
Kondisi tersebut dapat memicu tekanan pada aset berisiko, termasuk saham, karena investor menimbang kembali prospek pertumbuhan ekonomi dan biaya pendanaan. Meski demikian, kenaikan harga minyak berpotensi menjadi katalis positif bagi saham-saham yang berkaitan dengan sektor energi.
Di pasar obligasi, imbal hasil atau yield US Treasury tenor 10 tahun turun lebih dari 17 basis poin ke level 4,972%.
Baca Juga: IHSG Berpotensi Lanjut Rebound, tapi Sinyal Bahaya dari Asing dan Rupiah
Baca Juga: IHSG Tertekan, Danantara Borong Saham BUMN yang Menarik
"Sementara itu, harga emas spot justru melemah 2,2% menjadi US$4.051 per troy ounce pada penutupan perdagangan Kamis," ungkap Phintraco Sekuritas.
Pergerakan beragam di pasar global tersebut mencerminkan perubahan preferensi investor di tengah ketidakpastian ekonomi dan arah kebijakan suku bunga. Karena itu, pelaku pasar perlu memperhatikan perkembangan harga komoditas, imbal hasil obligasi, serta pergerakan saham-saham teknologi global sebagai petunjuk arah perdagangan.
Di tengah kondisi tersebut, investor dapat mencermati saham-saham pilihan untuk perdagangan hari, yakni MAPI, MDKA, AMMN, TPIA, ADRO, dan ANTM. Saham-saham tersebut masuk dalam daftar pilihan perdagangan, dengan tetap mempertimbangkan risiko pasar dan disiplin dalam menentukan strategi investasi.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: