Kredit Foto: MSCI
Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa sentimen pasar terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI) turut menekan nilai tukar rupiah. Tekanan ini terjadi di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi dan derasnya arus modal keluar dari negara berkembang.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah kembali tertekan 24 poin atau 0,13% ke level Rp18.084 per USD. Padahal perdagangan pagi tadi, rupiah masih berada di posisi Rp18.070 per USD.
Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Firman Mochtar, mengatakan tekanan terhadap rupiah tidak hanya dipicu oleh faktor eksternal. Respons pelaku pasar saham domestik terhadap pernyataan MSCI juga ikut memengaruhi sentimen pasar keuangan Indonesia.
“Dari sisi domestik, kemarin kawan-kawan bisa paham tentang bagaimana respons dari pelaku pasar saham terkait dengan statement dari MSCI. Ini juga menimbulkan sentimen,” ujar Firman dalam Taklimat Media di Gedung Bank Indonesia, Jumat (23/10/2026).
Menurut Firman, sentimen tersebut menambah tekanan terhadap rupiah yang sebelumnya sudah menghadapi tantangan akibat penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan perubahan arah investasi para pelaku pasar global.
“Jadi aliran modal keluar, tekanan global dan tekanan domestik, yang secara umum memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah,” jelasnya.
Ketidakpastian Global Hambat Arus Modal
Firman menjelaskan, ketidakpastian ekonomi global masih tinggi, salah satunya akibat konflik geopolitik yang mendorong kenaikan harga minyak dan sejumlah komoditas dunia. Kondisi ini berpotensi memicu tekanan inflasi global sekaligus memengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral di berbagai negara.
Di saat yang sama, imbal hasil instrumen keuangan di negara maju yang masih tinggi membuat investasi di negara-negara tersebut relatif lebih menarik. Akibatnya, aliran modal menuju negara berkembang, termasuk Indonesia, menghadapi hambatan.
“Jalur finansial ini adalah terkait dengan aliran modal termasuk ke Indonesia yang ternyata memang menjadi agak terhambat. Karena imbal hasil di negara maju juga masih tinggi,” kata Firman.
Ia menerangkan, tekanan dari sisi keuangan tersebut dapat memengaruhi neraca pembayaran Indonesia. Berbeda dengan jalur perdagangan yang dinilai masih relatif terjaga, pergerakan arus modal menjadi perhatian karena berpengaruh langsung terhadap permintaan dan penawaran valuta asing.
Baca Juga: Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga Acuan di 5,75%
Baca Juga: Rupiah Tertekan, Ini Alasan BI Tetap Tahan Suku Bunga 5,75%
Ketika arus modal keluar meningkat atau aliran modal masuk melambat, tekanan terhadap rupiah berpotensi semakin besar. Perkembangan ini juga dapat memengaruhi prospek inflasi dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Meski rupiah menghadapi tekanan, BI menilai prospek inflasi domestik masih berada dalam sasaran yang ditetapkan. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada September 2026 tercatat sebesar 3,28%, masih di bawah batas atas sasaran inflasi sebesar 3,5%.
Firman mengatakan, BI telah memperhitungkan berbagai skenario pergerakan nilai tukar dan perkembangan ekonomi global untuk memperkirakan inflasi ke depan.
“Hitungan kita, inflasinya ke depan itu masih akan berada di dalam koridor. Masih di bawah 3,5,” ungkapnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: