Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pengamat Peringatkan Prabowo: Kepercayaan Turun Bukan Karena Asing, Tapi Ucapan Pejabat Sendiri

Pengamat Peringatkan Prabowo: Kepercayaan Turun Bukan Karena Asing, Tapi Ucapan Pejabat Sendiri Kredit Foto: BPMI
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Prabowo Subianto diminta untuk hati-hati dalam merespons manuver dan ancaman eksternal dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). Musuh terbesar dari stabilitas perekonomian dan kepercayaan pasar saat ini dinilai tidak selalu berasal dari intervensi lembaga asing, melainkan bersumber dari dalam tubuh kabinet itu sendiri.

Pengamat Politik Hendri Satrio (Hensa) mengatakan komunikasi publik yang serampangan dan blunder pernyataan dari para pejabat negara bisa menjadi faktor paling destruktif yang kerap menghancurkan iklim investasi.

Baca Juga: Bantah Menghindar, Jokowi dan Gibran Siap Hadir Jika Dipanggil di Polemik Ijazah

Ia memperingatkan presiden agar segera mendisiplinkan jajaran menterinya menyusul mulai pulihnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Hensa menegaskan bahwa kerja keras pemulihan ekonomi selama berminggu-minggu bisa runtuh seketika hanya karena satu pernyataan pejabat yang memicu kegaduhan.

"Pengalaman kita, yang sering bikin kepercayaan turun itu bukan pihak luar, tapi pernyataan pejabat kita sendiri. Satu kalimat asal bicara bisa menghapus kerja berminggu-minggu," kata Hendri Satrio dikutip Jumat (23/10/2026).

Fenomena menteri yang kerap melontarkan pernyataan kontroversial di luar domain kewenangannya (offside) menjadi sorotan utama. Untuk menjaga agar sentimen positif di pasar modal tidak kembali menguap, Hensa secara blak-blakan menyarankan para menteri tersebut untuk mengunci rapat mulut mereka dan fokus pada tugas pokok masing-masing.

"Jadi kalau ada menteri yang hobi bikin gaduh, sebaiknya puasa bicara dulu biar kepercayaan yang baru balik ini tidak kabur lagi," ungkap Hensa.

Selain persoalan komunikasi menteri, Hensa juga mendesak pemerintah untuk membangun mentalitas kepemimpinan yang anti-rapuh (antifragile). Ia mengingatkan bahwa tren penguatan indeks pasar dan pulihnya kepercayaan publik tidak boleh disalahartikan sebagai tameng untuk menolak atau membungkam kritik.

"Menurut saya pemerintah yang dipercaya itu pemerintah yang tahan dikritik, bukan yang sibuk membalas kritik. Stabil itu bukan berarti tidak ada suara yang berbeda. Stabil itu artinya pemerintah tetap tenang, tetap bekerja, dan tidak gampang baper (bawa perasaan) setiap kali dikritik," tegas Hensa.

Pada akhirnya, tanggung jawab tertinggi untuk menjaga ritme pemulihan ekonomi ini berada di tangan pemerintah secara kolektif. Kembalinya bursa ke jalur hijau adalah sebuah momentum emas yang harus dijaga dengan langkah konkret yang terukur.

Baca Juga: PDIP Peringatkan Luhut: RUU Perampasan Aset Bakal Terjegal Gagasan Revisi Definisi Korupsi

"Momentumnya ada, tinggal pemerintah mau merawatnya atau malah merusaknya sendiri. Saya berharap pemerintah memilih yang pertama. Semoga sinyal baik ini bertahan. Yang dibutuhkan sekarang bukan tepuk tangan, tapi konsistensi," pungkas Hensa.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar