Kredit Foto: Antara/Umarul Faruq
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, masih dalam penanganan petugas gabungan hingga Jumat (23/10/2026). Proses pemadaman menghadapi sejumlah kendala, mulai dari medan terjal dan berbatu hingga terbatasnya sumber air di sekitar lokasi kebakaran.
Kebakaran mulai terdeteksi pada Rabu malam (21/10/2026) dan kemudian meluas akibat kondisi cuaca panas serta embusan angin kencang. Api merambat ke sejumlah blok kawasan hutan sehingga menyulitkan petugas menjangkau titik kebakaran.
Berdasarkan pemantauan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai pada Kamis sore, masih terdapat tiga titik api yang terpantau. Jumlah tersebut berkurang dari lima titik api yang dilaporkan sebelumnya. Titik kebakaran berada di antaranya di Blok Cipariuk, Karang Dinding, dan sekitar Bukit Seribu Bintang.
Kepala Balai TNGC, Toni Anwar, menyampaikan bahwa petugas masih memprioritaskan penanganan api. Luas lahan yang terdampak juga masih dalam proses pendataan.
Akses menuju lokasi kebakaran menjadi salah satu hambatan utama. Petugas gabungan harus berjalan kaki lebih dari satu kilometer untuk mencapai sejumlah titik api. Sementara itu, minimnya pasokan air membuat pemadaman dilakukan secara manual.
Baca Juga: Taiwan Lumpuh Sementara, Ratusan Penerbangan Dibatalkan akibat Topan Champi
Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar, mengatakan kondisi lereng yang curam dan berbatu membuat proses pemadaman melalui jalur darat sulit dilakukan.
“Kalau api sudah menjalar ke lereng-lereng yang terjal dan berbatu, proses pemadaman melalui jalur darat akan sangat sulit dan berbahaya,” kata Dian, Kamis (22/10/2026).
Pemerintah Kabupaten Kuningan telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk mengupayakan dukungan helikopter melalui metode water bombing. Metode ini diharapkan dapat membantu menjangkau titik api yang sulit dicapai petugas dari darat.
Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi turun langsung ke lokasi untuk mengoordinasikan upaya penanganan bersama tim gabungan. Ia juga mengingatkan masyarakat agar menghentikan pembakaran ilalang maupun pembersihan lahan menggunakan api.
“Kondisi cuaca yang masih terik dan hujan yang belum turun secara merata dapat meningkatkan risiko kebakaran,” ujar Dedi.
Hingga Jumat, penyebab pasti kebakaran belum dapat dipastikan. Balai TNGC menyatakan penyelidikan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui apakah kebakaran dipicu faktor alam, kelalaian manusia, atau unsur kesengajaan.
Petugas dari Balai TNGC, BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, relawan, dan masyarakat setempat terus melakukan upaya pemadaman serta pengendalian agar api tidak semakin meluas.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Taufan Bara Mukti
Editor: Taufan Bara Mukti
Tag Terkait: