Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Survei Kepuasan pada Prabowo Terus Turun, Gibran jadi Kunci

Survei Kepuasan pada Prabowo Terus Turun, Gibran jadi Kunci Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Analis politik dan keamanan Selamat Ginting menyoroti penurunan tingkat persetujuan publik terhadap Presiden Prabowo Subianto selama dua tahun pemerintahannya. Ia mengaitkan tren tersebut dengan polemik posisi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Hal itu disampaikan Selamat dalam diskusi evaluasi pemerintahan yang tayang di kanal YouTube Sinkos Indonesia pada 23 Oktober 2026.

Dalam forum tersebut, Selamat memaparkan tren angka persetujuan terhadap Prabowo berdasarkan kompilasi sejumlah hasil survei. Menurut dia, angkanya terus menurun sejak November 2025.

"Jadi kalau kita lihat rata-rata survei itu terhadap Prabowo itu tiap bulan semakin ke sini semakin turun," ungkap Selamat.

Ia merinci, tingkat persetujuan terhadap Prabowo berada di angka 81,2 persen pada November 2025. Angka itu kemudian turun menjadi 66,4 persen pada Maret 2026 dan 51,1 persen pada Juli 2026.

Memasuki Oktober 2026, bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Prabowo, angkanya disebut kembali merosot menjadi 44,5 persen.

"November 2025 itu masih sekitar 81,2%. Masuk ke Maret 2026 turun langsung ke 66,4% hampir 20%. Lalu Juli 2026 sudah 51,1%, masuk ke Oktober 2 tahun pemerintahan Prabowo ini 44,5%."

Selamat menilai penurunan tersebut perlu menjadi peringatan bagi Prabowo. Ia mengaitkannya dengan sentimen publik terhadap Gibran dan polemik konstitusional yang menyertai pencalonan wakil presiden tersebut.

Menurut Selamat, pemerintah perlu memperhatikan dampak persoalan itu terhadap kepercayaan masyarakat kepada kepemimpinan nasional.

"Nah, ini sudah warning bagi Presiden Prabowo bahwa Gibran itu bukan lagi lampu kuning, ini sudah lampu merah. Kalau Prabowo masih juga mempertahankan Gibran ini sama juga mantap makan tabungan pribadinya sendiri," tegasnya.

Ia juga berpendapat angka persetujuan tersebut mencerminkan beban politik yang harus ditanggung Prabowo. Selamat menilai hasilnya bisa berbeda apabila Prabowo diukur secara terpisah dari Gibran.

"Artinya dia akan tergerus karena angka tersebut menunjukkan betapa persetujuan rakyat bahwa Gibran ini adalah beban negara, beban nasional, beban bagi Prabowo. Beda sekali kalau kemudian Prabowo disurvei sendiri," paparnya.

Baca Juga: Gibran Disebut Korban Manuver Elite Politik, Aktivis 98: Anak Kecil yang Dieksploitasi

Selamat mengingatkan Prabowo agar tidak menunda langkah politik untuk merespons penurunan persetujuan publik tersebut. Menurutnya, persoalan ini perlu segera ditangani sebelum berdampak lebih jauh terhadap legitimasi pemerintahan.

Ia kembali menegaskan bahwa kondisi tersebut merupakan peringatan serius bagi Presiden.

"Ini menurut saya betul-betul lampu merah. Presiden Prabowo tidak bisa menunggu sampai pergantian tahun," ujarnya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat