AI Bukan Pengganti Kreator! TikTok Bagikan Cara Berkarya Tanpa Kehilangan Orisinalitas
Kredit Foto: Istimewa
TikTok membagikan lima kebiasaan untuk membantu pengguna memanfaatkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) secara bertanggung jawab, mulai dari memilih perangkat yang sesuai kebutuhan hingga memeriksa keaslian konten sebelum membagikannya. Langkah ini dinilai penting seiring makin mudahnya teknologi AI menghasilkan gambar dan video yang menyerupai kondisi nyata.
Pengamat Teknologi Informasi dan Ahli Keamanan Siber, Alfons Tanujaya, mengatakan perkembangan AI generatif berlangsung lebih cepat dibandingkan kemampuan masyarakat mengenali konten yang dihasilkan teknologi tersebut.
“Kecepatan perkembangan AI generatif jauh melampaui kecepatan masyarakat beradaptasi mengenalinya. Dulu, membuat sebuah video kreatif butuh waktu yang cukup lama, tapi sekarang, siapa pun bisa menghasilkan gambar atau video yang nyaris tidak terbedakan dari aslinya hanya dalam hitungan detik. Di titik inilah tanggung jawab pengguna dan transparansi dari platform menjadi lini pertahanan utama, bukan lagi pilihan tambahan,” ujar Alfons.
Menurut Alfons, AI dapat membantu proses kreatif, tetapi hasilnya tetap membutuhkan evaluasi manusia agar sesuai dengan konteks dan memberikan manfaat bagi audiens.
“Di balik setiap informasi atau konten yang dihasilkan dengan bantuan AI, tetap dibutuhkan campur tangan manusia. Nilai tambah yang sesungguhnya lahir ketika kita memberikan perspektif, empati, serta keahlian analitis untuk mengubah data mentah dari AI menjadi solusi yang bermakna dan berdampak positif bagi publik,” tambahnya.
Berikut lima kebiasaan yang dibagikan TikTok bersama para kreator untuk mendukung penggunaan AI secara lebih bijak.
1. Jadikan AI sebagai asisten, bukan pengganti manusia
AI dapat membantu pengguna mengembangkan ide, menyusun konsep, dan mempercepat proses produksi konten. Namun, kreator tetap perlu memastikan karya akhir mencerminkan perspektif dan keputusan mereka sendiri.
TikTok mengingatkan pengguna agar tidak sepenuhnya menyerahkan proses kreatif kepada AI, termasuk menghindari penggunaan teknologi tersebut untuk meniru karya atau gaya orang lain tanpa pertimbangan yang tepat.
2. Berikan label dan transparansi pada konten AI
Kreator perlu mengevaluasi hasil AI sebelum mengunggahnya, termasuk memastikan kesesuaian konteks dan kejelasan informasi bagi audiens. Jika konten dibuat atau diedit secara signifikan menggunakan AI, transparansi menjadi bagian penting untuk menjaga kepercayaan pengguna.
Kreator TikTok Theresa (@theresalearns) menekankan pentingnya keterbukaan dalam penggunaan AI. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengaktifkan fitur Label AI sebelum mengunggah konten yang memenuhi kriteria pelabelan.
TikTok menyatakan telah memberikan label pada lebih dari 3 miliar video buatan AI di seluruh dunia melalui kombinasi teknologi Content Credentials, perangkat pelabelan kreator, dan Invisible Watermarking. Platform tersebut juga menyebut telah menerapkan teknologi Kredensial Konten C2PA untuk membantu pengguna mengenali konten yang dibuat atau diedit secara signifikan menggunakan AI.
3. Pilih perangkat AI sesuai kebutuhan
Pengguna disarankan memilih perangkat AI berdasarkan tujuan penggunaannya, bukan mengandalkan satu perangkat untuk semua kebutuhan.
TikTok menyediakan AI Outline untuk membantu kreator menyusun kerangka konten, termasuk naskah, judul, tagar, dan ide pembuka video. Sementara itu, fitur Smart Split di TikTok Studio dapat membantu mengubah video panjang menjadi beberapa klip pendek secara otomatis.
Kedua fitur tersebut ditujukan untuk mendukung perencanaan dan produksi konten agar lebih praktis.
4. Terapkan prinsip #PikirDuaKali sebelum membagikan konten
Kreator TikTok Evelyn Hutani (@hutanhutani) mengingatkan pengguna agar tidak langsung memercayai atau membagikan konten yang terlihat menarik, lucu, atau meyakinkan tanpa memeriksa konteksnya.
TikTok mendorong penerapan prinsip 3C, yaitu Cek, Cegah, dan Cegat. Cek berarti mengenali kemungkinan penggunaan AI serta memeriksa sumber tepercaya. Cegah berarti tidak terburu-buru mempercayai atau menyebarkan konten yang meragukan. Sementara itu, Cegat berarti menggunakan fitur pelaporan jika menemukan konten yang diduga melanggar aturan platform.
5. Atur preferensi konten AI di TikTok
Pengguna juga dapat menyesuaikan pengalaman mereka dengan mengatur seberapa banyak konten buatan AI yang ingin ditampilkan.
Pengaturan tersebut dapat diakses melalui menu Pengaturan dan Privasi, kemudian Preferensi Konten, Kelola Topik, dan Konten Buatan AI.
Kreator Evelyn Hutani dan Tommy Teja (@tommythings) turut membagikan panduan untuk membantu pengguna mengelola preferensi tersebut.
Melalui berbagai panduan dan fitur ini, TikTok mendorong pengguna agar memanfaatkan AI untuk mendukung kreativitas tanpa mengabaikan transparansi, pemeriksaan informasi, dan tanggung jawab saat membagikan konten digital.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: