Pengamat Ungkap Alasan Dedi Mulyadi Disukai Publik, Pejabat Elitis Mulai Ditinggalkan?
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Kejenuhan masyarakat terhadap gaya kepemimpinan yang dianggap elitis dinilai menjadi salah satu faktor yang menguntungkan figur seperti Dedi Mulyadi. Gubernur Jawa Barat itu dipandang mampu menarik perhatian publik melalui aktivitas yang memperlihatkan kedekatan dengan masyarakat.
Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah mengatakan, masyarakat cenderung menyukai tokoh yang dirasa mewakili kondisi kehidupan mereka. Kehadiran pemimpin dalam aktivitas sehari-hari warga dapat membangun kesan bahwa sosok tersebut memahami persoalan yang mereka hadapi.
“Ya memang ini agak dilematis ya, kenapa? Karena publik saya kira sudah cukup bosan dengan aktivitas-aktivitas pejabat yang yang elitis begitu ya, sehingga mereka cenderung lebih menyukai tokoh atau orang-orang yang memang dirasa mewakili kondisi hidup mereka,” ujar Dedi dalam pemaparan hasil riset dan diskusi publik secara daring, Sabtu (24/10/2026).
Menurutnya, kedekatan dengan masyarakat menjadi salah satu unsur yang dapat memperkuat daya tarik seorang tokoh politik. Dalam konteks Dedi Mulyadi atau KDM, aktivitas yang dipublikasikan melalui media sosial turut membantu membangun citra sebagai pemimpin yang dekat dengan kehidupan warga.
Dedi Kurnia Syah menjelaskan, popularitas berperan dalam membentuk tingkat kesukaan masyarakat terhadap seorang figur. Seseorang yang lebih dikenal publik berpeluang mendapatkan perhatian lebih dahulu sebelum masyarakat menentukan apakah akan menyukai atau memilihnya.
“Popularitas itu mempengaruhi tingkat kesukaan mereka, artinya popularitas tetap menjadi panduan pertama sebelum responden itu menentukan akan memilih atau menyukai atau tidak,” tuturnya.
KDM dinilai mampu memanfaatkan mekanisme tersebut melalui publikasi aktivitas di media sosial serta kegiatan yang memperlihatkan interaksi dengan masyarakat. Strategi komunikasi itu membuat sosoknya terus hadir dalam perhatian publik, sekaligus memperkuat pengenalan masyarakat terhadap dirinya.
Dedi menilai pola tersebut bukan hal baru dalam politik Indonesia. Ia membandingkan pendekatan KDM dengan gaya komunikasi politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo yang juga dikenal luas melalui publikasi aktivitas bersama masyarakat.
“Tokoh-tokoh seperti Dedi Mulyadi ini sebetulnya juga sudah linier dengan tokoh-tokoh sebelumnya, ya sebut saja misalnya Presiden Joko Widodo atau presiden ketujuh misalnya. Populer, disukai, dan juga elektabilitasnya tinggi karena banyak melakukan publikasi propaganda yang berkaitan dengan dekat dengan aktivitas-aktivitas publik,” jelasnya.
Daya tarik tersebut tercermin dalam hasil riset nasional IPO bertajuk simulasi pilihan presiden. Dalam pertanyaan terbuka, KDM meraih elektabilitas 33,7 persen, sedangkan dalam simulasi daftar tertutup, perolehannya mencapai 32 persen.
Hasil itu menempatkan Dedi Mulyadi di posisi teratas dalam kedua simulasi. Angka tersebut memperlihatkan kuatnya posisi KDM dalam survei yang dipaparkan IPO, meskipun hasil survei tidak dapat diperlakukan sebagai gambaran pasti hasil Pilpres 2029.
Dedi Kurnia Syah menilai tingginya elektabilitas KDM cukup masuk akal jika dilihat dari popularitas dan aktivitasnya di ruang publik. Kombinasi antara pengenalan masyarakat, citra merakyat, dan publikasi kegiatan dinilai menjadi modal yang mendukung daya tarik politiknya.
“Kalau dilihat dari skema itu, maka Dedi Mulyadi cukup rasional ketika mendapatkan elektabilitas tertinggi. Yang pertama misalnya, mendapatkan momentum terkait dengan popularitas di media sosial, di aktivitas-aktivitas yang memang dekat dengan publik,” ungkapnya.
Baca Juga: KDM vs Prabowo di 2029? Pengamat Ungkap Spekulasi di Balik Absennya Dedi Mulyadi
Meski citra dekat dengan masyarakat dapat menjadi keunggulan, popularitas tetap bukan satu-satunya faktor yang menentukan pilihan politik. Persepsi publik dapat berubah, sementara elektabilitas seorang tokoh masih dipengaruhi perkembangan situasi politik dan penilaian masyarakat terhadap kinerjanya.
Karena itu, posisi KDM dalam survei IPO perlu dibaca sebagai gambaran preferensi responden pada saat riset dilakukan, bukan kepastian bahwa dirinya akan memenangkan Pilpres 2029. Persaingan politik masih dapat berkembang seiring munculnya kandidat lain dan perubahan perhatian publik.
Penilaian pengamat tersebut sekaligus menunjukkan bahwa cara seorang pemimpin berkomunikasi dengan masyarakat dapat menjadi bagian penting dalam membangun dukungan. Namun, untuk mempertahankan kepercayaan publik dalam jangka panjang, citra merakyat perlu berjalan beriringan dengan kinerja dan kemampuan menjawab persoalan masyarakat.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama