Kredit Foto: Garuda Indonesia
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) belum akan melakukan merger maskapai penerbangan pelat merah (BUMN) sebelum kondisi keuangannya membaik.
Adapun Danantara sebelumnya berencana menggabungkan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) dengan Pelita Air. Namun, hingga saat ini rencana tersebut belum sampai keputusan final.
COO Danantara sekaligus Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, menilai penggabungan maskapai BUMN berisiko membuat kedua perusahaan menjadi beban apabila kondisi keuangannya belum maksimal.
"Belum, belum, belum. Karena kan kalau dimerger kan kondisinya belum betul-betul baik, dua-duanya nanti jadi beban kan," ujar Dony saat ditemui di sela acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (TIIF) 2026 di Hotel Fairmont, Jakarta, Senin (26/10/2026).
Terkhusus Garuda Indonesia, Dony menyebut saat ini maskapai disebut perlu menuntaskan transformasi bisnisnya sebelum rencana merger dipertimbangkan kembali.
"Jadi kita perbaiki dulu, yang Garudanya harus betul-betul sukses dulu melakukan transformasi terhadap bisnisnya," kata Dony.
Oleh karenanya, ia berharap perubahan dilakukan secara menyeluruh. Mulai dari layanan sebelum penerbangan (pre-flight), selama penerbangan (in-flight), hingga setelah penerbangan (post-flight).
Dony mencontohkan proses layanan penumpang, termasuk proses check-in dan layar di dalam pesawat, masih menjadi bagian yang dievaluasi karena dinilai belum menunjukkan peningkatan sesuai harapan.
Baca Juga: Danantara: 52% BUMN Merugi hingga Rp27,19 Triliun per Tahun
Baca Juga: Danantara Bikin Aturan Larang Pejabat BUMN Dikawal Ajudan dan Patwal
Baca Juga: Bos Danantara Temui Raksasa China, Bahas Nikel dan Baja Tahan Karat
Selain itu, Danantara juga tengah meninjau sejumlah aspek identitas perusahaan, termasuk seragam dan tampilan Garuda Indonesia. Maskapai pelat merah tersebut berencana melakukan rebranding, tetapi nama Garuda Indonesia tetap dipertahankan.
"Nanti akan kita ada re-branding juga. Tapi bukan namanya ya, namanya tetap ya pasti Garuda Indonesia," ucap Dony.
Sehingga, merger baru akan dilakukan setelah kondisi kedua maskapai membaik.
"Nanti kalau dua-duanya sudah bagus, baru kita lakukan mergernya," pungkas dia.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Maulandy Rizky Bayu Kencana
Editor: Dian Ihsan