Kredit Foto: PLN
Pengunduran diri Mohammad Hatta dari jabatan Wakil Presiden Republik Indonesia pada 1956 menjadi salah satu titik balik krusial dalam sejarah politik nasional.
Keputusan tersebut mencerminkan perselisihan prinsipil dengan Presiden Sukarno mengenai arah demokrasi, tata kelola negara, dan integritas pemerintahan.
Hasil Pemilu 1955 yang membentuk Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Konstituante menjadi titik awal niat Hatta untuk melepaskan diri dari konsep kepemimpinan Dwi Tunggal.
Kronologi Pengunduran Diri Bung Hatta
Proses mundurnya Bung Hatta dari panggung kepemimpinan nasional melewati beberapa tahap persuratan resmi kepada parlemen:
20 Juli 1956: Hatta melayangkan surat pengunduran diri pertama sebagai wakil presiden kepada DPR, namun saat itu belum mendapatkan tanggapan resmi.
23 November 1956: Hatta kembali mengirimkan surat penegasan bahwa dirinya secara resmi akan meletakkan jabatan pada 1 Desember 1956.
28–30 November 1956: DPR menggelar sidang khusus untuk mengambil keputusan dan memproses surat pengunduran diri yang diajukan oleh Hatta.
Dalam program TOP SECRET di kanal YouTube Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Sejarawan Erwin Kusuma mengulas dinamika hubungan kedua proklamator tersebut.
"Bung Hatta sudah melihat bahwa Sukarno hubungannya secara politik atau secara pengelolaan negara sudah sangat berbeda dengan komitmen Presiden dan Wakil Presiden di tahun 45 sampai 49. Jadi konsep-konsep Dwi Tunggal itu sudah tidak sejalan dengan pemikiran Bung Hatta," ujar Erwin.
Perbedaan mendasar ini dipicu oleh pergeseran sistem demokrasi. Bung Hatta konsisten memegang teguh demokrasi parlementer berbasis hukum serta birokrasi yang bersih, sementara Sukarno bergeser ke arah Demokrasi Terpimpin.
Bung Hatta dikenal mendukung demokrasi parlementer yang berlandaskan hukum, perwakilan politik, serta tata kelola pemerintahan yang bertanggung jawab. Sementara itu, Sukarno kemudian mengembangkan konsep Demokrasi Terpimpin yang memberikan peran lebih besar kepada presiden dalam sistem politik nasional.
Perbedaan arah politik tersebut menjadi salah satu faktor yang memperlebar jarak di antara kedua tokoh. Hatta menilai prinsip-prinsip yang mendasari kerja sama mereka pada awal kemerdekaan tidak lagi berjalan seiring dengan perkembangan pemerintahan.
Selain isu ideologis, keberanian Bung Hatta dalam menyuarakan kritik terhadap praktik korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan di birokrasi pemerintahan memperkuat tekadnya untuk mundur dari kursi Wakil Presiden.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat