Kredit Foto: Muhammad Adimaja
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menghadapi tekanan di tengah derasnya arus dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia. Meski demikian, peluang pemulihan indeks tetap terbuka, seiring munculnya sinyal teknikal positif dan sejumlah katalis yang akan menjadi perhatian investor pekan ini.
Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, mencatat aksi jual bersih (net foreign sell) investor asing di pasar saham domestik mencapai Rp2,03 triliun. Secara kumulatif sepanjang tahun berjalan (year to date/YTD), aksi jual bersih tersebut telah mencapai Rp122,20 triliun.
Di tengah tekanan tersebut, kinerja IHSG secara YTD tercatat minus 37,86% berdasarkan data yang disampaikan Nafan.
"Meski kondisi pasar masih menantang, peluang pemulihan indeks secara teknikal dinilai masih terbuka. IHSG disebut tengah membentuk pola pembalikan arah atau rebound yang berkelanjutan, meskipun masih berpotensi mengalami koreksi," kata Nafan dalam risetnya, Selasa (27/10/2026).
IHSG Berpeluang Rebound
Secara teknikal, IHSG sedang membentuk pembalikan arah dari pola wave 5/(C)/Y. Namun, peluang pemulihan tersebut perlu dicermati karena sejumlah indikator belum memberikan sinyal yang sepenuhnya positif.
Indikator Stochastic K_D menunjukkan arah positif. Sebaliknya, indikator Relative Strength Index (RSI) masih berada di area negatif, sementara volume transaksi mengalami penurunan.
Kondisi ini menunjukkan peluang penguatan masih terbuka, tetapi investor perlu mewaspadai tekanan jual dan aktivitas perdagangan yang belum cukup kuat.
Nafan menetapkan area support IHSG di level 5.246 dan 5.111. Sementara itu, level resistance berada di 5.455 dan 5.597.
Area support menjadi level penting untuk mengukur kemampuan indeks menahan tekanan jual. Adapun resistance merupakan level yang perlu ditembus agar penguatan IHSG berpeluang berlanjut.
Investor Selektif Pilih Saham
Menghadapi kondisi pasar yang masih bergejolak, Nafan menyarankan investor untuk lebih selektif dalam menentukan saham pilihan. Ia merekomendasikan akumulasi saham dengan fundamental kuat, kondisi keuangan sehat, prospek pertumbuhan yang jelas, dan likuiditas perdagangan yang memadai.
Dalam rekomendasinya, Nafan menekankan pentingnya memperhatikan kualitas perusahaan sekaligus menjaga risiko investasi.
“Akumulasi pada saham-saham pilihan yang memiliki fundamental solid, neraca keuangan yang sehat, prospek pertumbuhan yang jelas, serta likuiditas perdagangan yang kuat. Selain itu, terapkan manajemen risiko secara disiplin,” ujar Nafan.
Strategi tersebut dinilai relevan di tengah tingginya aksi jual asing dan belum meratanya sinyal pemulihan pasar saham domestik.
Keputusan The Fed Jadi Penentu Arah Pasar Global
Dari sisi eksternal, salah satu katalis utama yang akan dicermati investor pekan ini adalah keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed).
Mayoritas pelaku pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75%–4,00%, setelah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September.
Namun, keputusan menahan suku bunga belum tentu menjadi sinyal bahwa kebijakan moneter AS akan segera melonggar. Inflasi AS masih mencapai 3,7% secara tahunan pada September, jauh di atas target The Fed sebesar 2%.
Kenaikan harga energi, terutama di tengah konflik AS-Iran, turut menambah risiko tekanan inflasi. Selain itu, dinamika politik menjelang pemilu sela AS pada 3 November 2026 juga menjadi salah satu faktor yang disorot dalam membaca arah kebijakan moneter.
Karena itu, perhatian investor tidak hanya tertuju pada keputusan suku bunga Oktober, tetapi juga pada sinyal kebijakan berikutnya, termasuk kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember 2026.
Perubahan ekspektasi suku bunga AS dapat memengaruhi pergerakan dolar, arus modal global, dan minat investor asing terhadap aset berisiko, termasuk saham Indonesia.
Kinerja Raksasa Teknologi dan Bank Jadi Katalis Berikutnya
Selain kebijakan moneter, laporan keuangan sejumlah perusahaan berkapitalisasi besar juga akan menjadi perhatian investor.
Di pasar global, investor menantikan laporan keuangan Microsoft dan Alphabet pada Rabu (28/10/2026), disusul Amazon pada Kamis (29/10/2026).
Kinerja ketiga perusahaan tersebut berpotensi memberikan gambaran mengenai pertumbuhan bisnis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan komputasi awan (*cloud computing). Investor juga akan mencermati apakah besarnya belanja infrastruktur AI mampu menghasilkan pendapatan dan keuntungan yang sepadan.
Sementara itu, di dalam negeri, perhatian investor tertuju pada kinerja emiten perbankan, baik kelompok bank besar maupun bank berkapitalisasi menengah.
Bank Mandiri (BMRI) diperkirakan mengumumkan kinerjanya pada 27 Oktober 2026. Selanjutnya, Bank Syariah Indonesia (BRIS) dijadwalkan pada Kamis (29/10/2026), sedangkan BBRI, BBTN, dan BDMN diperkirakan menyusul pada Jumat (30/10/2026). Jadwal tersebut masih berupa estimasi dan dapat berubah.
Baca Juga: Saham BCA Jadi Pemberat IHSG, Sahamnya Sudah Anjlok Hampir 39% Tahun Ini
Baca Juga: IHSG Babak Belur! Amblas 1,22% ke Level 5.373
Baca Juga: IHSG Loyo di Sesi I, Terkoreksi 1% ke Level 5.384
Laporan keuangan yang menunjukkan pertumbuhan laba berkualitas, pengelolaan risiko yang baik, serta kondisi keuangan yang sehat berpotensi menjadi katalis positif bagi saham perbankan terkait. Sebaliknya, kinerja yang berada di bawah ekspektasi pasar dapat menambah tekanan terhadap saham-saham tersebut.
Di dalam negeri, reformasi pasar modal juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Usulan reklasifikasi Indonesia menjadi Standalone Market dalam evaluasi MSCI masih membayangi persepsi investor terhadap pasar saham nasional.
Langkah Bursa Efek Indonesia (BEI) memperkuat pengawasan terhadap saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC), serta meningkatkan transparansi perdagangan, berpotensi mendukung pemulihan kepercayaan pasar.
Namun, efektivitas langkah tersebut akan sangat bergantung pada konsistensi penerapan dan kredibilitas reformasi yang dijalankan.
Di sisi lain, FTSE Russell tetap mempertahankan Indonesia dalam klasifikasi Secondary Emerging Market. Status ini dapat menjadi salah satu penopang kepercayaan investor terhadap pasar saham Indonesia di tengah berbagai tantangan yang dihadapi.
Apabila reformasi regulasi, pengawasan, dan transparansi transaksi berjalan secara konsisten, risiko arus keluar modal (capital outflow) diharapkan dapat diredam dan kepercayaan investor dalam jangka panjang berpeluang pulih.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: