Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pejabat Iran Usulkan Senjata Nuklir sebagai Pencegah Serangan AS-Israel

Pejabat Iran Usulkan Senjata Nuklir sebagai Pencegah Serangan AS-Israel Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Iran disebut mempertimbangkan penggunaan senjata nuklir apabila kembali diserang Amerika Serikat (AS) dan Israel. Wacana tersebut mencuat setelah seorang pejabat parlemen Iran mengusulkan penggunaan persenjataan pencegah untuk menghadapi kemungkinan serangan baru.

Laporan yang dikutip sejumlah media internasional menyebut Mohammad Saleh Jokar, Ketua Komite Urusan Internasional Parlemen Iran, mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan penggunaan senjata baru, termasuk senjata nuklir, jika AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran.

Dalam laporan tersebut, Jokar disebut meminta otoritas Iran untuk mengambil langkah pertahanan yang lebih tegas. “Ia telah meminta otoritas Republik Islam Iran untuk membela negara dan, demi tujuan pencegahan, mengizinkan penggunaan senjata pencegah, termasuk senjata nuklir, jika terjadi serangan AS terhadap Iran.”

Baca Juga: KPK Telusuri Pengembalian Rp250 Juta dari PCNU Nias dalam Kasus Dugaan Korupsi ATR/BPN

Usulan itu juga dikaitkan dengan kemungkinan serangan balasan terhadap pangkalan militer dan kapal perang AS, serta fasilitas strategis di kawasan Teluk Persia. Sasaran yang disebut dalam laporan meliputi infrastruktur energi, jaringan pipa minyak, bandara, dan sejumlah fasilitas sipil.

Meski demikian, pernyataan tersebut merupakan usulan yang dilaporkan berasal dari seorang pejabat parlemen. Belum ada konfirmasi bahwa pemerintah Iran telah menetapkan kebijakan resmi untuk menggunakan senjata nuklir apabila kembali diserang.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya memperingatkan bahwa serangan baru dapat membawa dampak luas bagi masyarakat dan perekonomian dunia.

“Serangan baru akan membahayakan nyawa warga sipil, kesejahteraan seluruh negara di kawasan, serta perekonomian global,” kata Araghchi dalam tulisan opini yang dimuat Financial Times, sebagaimana dikutip dalam pemberitaan.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Taufan Bara Mukti
Editor: Taufan Bara Mukti